Tak Peduli Diskriminasi, Aplikasi PeduliLindungi Sebenarnya Tak Dibutuhkan

photo author
Tim Liputan Bekasi 02, Liputan Bekasi
- Kamis, 23 September 2021 | 17:33 WIB
Pengunjung memindai QR code melalui aplikasi PeduliLindungi sebelum memasuki bioskop di salah satu mal di Palembang, Sumatra Selatan, Selasa 21 September 2021. (/Antara/Feny Selly)
Pengunjung memindai QR code melalui aplikasi PeduliLindungi sebelum memasuki bioskop di salah satu mal di Palembang, Sumatra Selatan, Selasa 21 September 2021. (/Antara/Feny Selly)

LIPUTAN BEKASI - Pemerintah mengeluarkan kebijakan penggunaan aplikasi PeduliLindungi untuk mengakses sejumlah fasilitas publik, tetapi Niat dan tujuan yang baik belum tentu bisa diterima dengan baik di tengah masyarakat.

Namun, masih banyak masalah mendasar yang harus diselesaikan agar kebijakan ini berjalan efektif, tanpa ada diskriminasi, tentunya kita mengapresiasi upaya pemerintah dalam mengendalikan pandemi Covid-19.

Di tengah gencarnya pemanfaatan aplikasi ini, keluhan masyarakat soal aplikasi ini pun semakin banyak, jika penggunaan aplikasi ini bertujuan untuk membatasi mobilitas masyarakat di tengah pandemi yang belum selesai.

Mulai dari tidak bisa scan barcode, aplikasi yang susah diakses, hingga kesalahan data yang tercantum di dalam aplikasi tersebut.

Baca Juga: Geger!!! Setelah Kerajaan Sunda Empire Muncul Lagi Kerajaan Angling Dharma di Pandeglan Banten

Dikutip liputanbekasi.com dari Pikiran Rakyat dengan judul "PeduliLindungi Sebenarnya Tak Dibutuhkan, TakPeduliDiskriminasi."

Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, sebelumnya sempat mengkritik aplikasi PeduliLindungi yang menurut dia justru menyulitkan pemerintah.

Selain belum efektif karena sistem database belum terintegrasi, cakupan vaksinasinya juga belum 50 persen.

Menurut Dicky, masalah utama yang dihadapi Indonesia dalam menghadapi Covid-19 ada pada 3T yaitu testing, tracing, dan treatment.

Baca Juga: Anak Dari Dono Warkop Marah dan Sakit Hati, Warkopi Tidak Punya Etika

Dicky mengatakan, jika 3T di Indonesia kuat, tidak perlu adanya aplikasi semacam PeduliLindungi.

Apalagi, jika akses seseorang ke fasilitas publik hanya berpatokan pada vaksinasi. Bukankah vaksinasi tak menjamin 100 persen seseorang aman dari Covid-19 atau tidak menularkannya ke orang lain?

Oleh karena itu, Dicky menilai, penerapan aplikasi PeduliLindungi tidak bisa saklek. Said Fariz Hibban, data analis dari LaporCovid19 bahkan menyebut sejak awal kemunculannya, PeduliLindungi tidak terlihat punya riset yang mumpuni akan kebutuhan masyarakat.

Baca Juga: Sungguh Ajaib, Inilah 12 Manfaat Masker Kopi Bagi Kulit Wajah dan Cara Pembuatannya

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Nurrijal Fahmi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X