• Rabu, 19 Januari 2022

Sinopsis Film Pengkhianatan G30S PKI, Brigadir Jendral D.I Pandjaitan Ditembak saat Berdoa

- Kamis, 30 September 2021 | 20:00 WIB
Donald Isaac Panjaitan / https://id.wikipedia.org/
Donald Isaac Panjaitan / https://id.wikipedia.org/
 
LIPUTAN BEKASI- 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September, atau biasa yang dikenal dengaN G30S PKI. Sedangkan besoknya 1 Oktober diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. 
 
Dari kedua tanggal tersebut, terdapat peristiwa yang menjadi sejarah terpanjang dalam ingatan masyarakat Indonesia.
 
Banyak pengkhianatan dan pertumpahan darah terhadap para pahlawan revolusi dalam mempertahankan bangsa ini.
 
 
Peristiwa yang menuai sejarah terpanjang ini dikenal sebagai G30S PKI. Maka tak heran, untuk memperingati dan mengenang peristwa G30S PKI banyak channel Televisi yang menayangkan film tersebut.
 
Salah satu televisi yang menayangkan film ini ialah TvOne. TvOne akan meyangkan film G30S PKI pada kamis 30 September 2021, pukul 21.00 WIB. 
 
Film G30S PKI ini dibuat atau diproduksi pada masa Orde Baru yang berdurasikan 4 jam.
 
Banyak masyarakat yang begitu antusias menonton film ini, karena memang film G30S PKI diproduksi untuk mengenang peristiwa Gerakan 30 September 1965.
 
Dalam film tersebut diceritakan bahwa tanggal 30 September merupakan peristiwa yang menuai sejarah bagi bangsa Indonesia.
 
 
Banyak penculikan serta pembunuhan terhadap tujuh jendral pada 30 September 1965 oleh sekelompok pemberontak PKI.
 
Akan tetapi, film yang berdurasi 4 jam ini masih dipertanyakan kebenaran keasliannya. Masih adanya pro dan kontra dari beberapa pihak yang terkait. 
 
Bagi yang belum pernah nonton film Pengkhianatan G30S PKI dan penasaran?
 
Berikut Sinopsis Film G30S PKI :
 
Dalam film G30S PKI diceritakan sebuah peristiwa adanya kudeta serta penculikan terhadap 7 Jendral, diantaranya: Jendral Ahmad Yani, Mayjen R Suprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S. Parman, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, Lettu Piere Andreas Tendean, dan Brigadir Jendral Donald Isaac Pandjaitan.
 
Peristiwa tersebut terjadi pada 30 September 1965 yang dilakukan oleh  seorang Kolonel yang bernama Untung dan seorang Komandan Batalyon Cakrabirawa.
 
 
Ketujuh jendral itu dibunuh, salah satunya ialah Brigadir Jenderal Donald Isac Pandjaitan.
 
Sekelompok tentara yang membawa senjata Laras panjang, mengepung rumah panjaitan yang berlokasi dijalan Hasanuddin 53, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
 
Pasukan dari kelompok tentara yang mengepung rumah panjaitan ini ialah berasal dari satuan Cakrabirawa, pasukan khusus yang memang bertugas untuk mengawal Presiden Soekarno.
 
Saat itu, Brigadir Jendral tengah berada dalam kamarnya dilantai 2 dan suasana terlihat biasa saja tidak ada yang aneh atau terlihat menyeramkan.
 
Pada saat itu juga, Brigadir Jendral Isaac Pandjaitan tengah mengenakan seragam militer lengkap miliknya.
 
 
Kemudian bercermin sambil merapihkan baju seragamnya supaya tidak keliatan kusut dan rapi.
 
Sementara diluar kamar, pasukan tersebut mulai masuk dan sudah menguasai lantai satu rumahnya.
 
Pasukan tentara itupun mulai melepaskan peluru tembakannya, yang mengenai perabotan rumah miliknya.
 
Suara tembakan tersebut membuat istri serta anaknya ketakutan yang waktu itu tengah berada dilantai 2.
 
 
Berbarengan dengan kejadian tersebut, seorang asisten rumah tangga melaporkan bahwa kedua ponakannya yang bernama Albert dan Viktor tengah berada dilantai satu dan sudah terkena tembakan oleh sekelompok tentara itu.
 
Dengan sangat hati-hati dan pelan-pelan, Brigadir Jenderal Isaac Pandjaitan pun turun kelantai satu yang pada saat itu sudah dikuasi oleh para pasukan tentara.
 
Ketika berada dihadapan para pasukan tentara, Brigadir Jenderal langsung disuruh naik ke truk yang akan menuju ke Istana. 
 
Para pasukan tentara mengatakan, bahwa mereka diminta oleh Presiden Soekarno untuk membawanya dikarenakan kondisi sedang darurat.
 
 
Brigadir Jenderal pada saat itu menyempatkan untuk berdo’a, sehingga hal itu mebuat sekelompok tentara semakin marah, sehingga salah satu dari tentara itu memukul Jenderal dengan popor senjatanya.
 
Tetapi sebelum mengenai wajahnya, Brigadir Jenderal berhasil menepis popor senjata itu.
 
Namun, hal tersebut justru membuat pasukan tersebut semakin marah.
 
Sehingga Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat  atau Brigadir Jenderal itu ditembak hingga tewas.
 
 
Jenazahpun dimasukkan kedalam truk kemudian dibawa pergi.
 
Penembakkan tersebut disaksikan oleh putrri sulungnya bernama Catherine.
 
Catherine pun menghampiri titik penembakan ayahnya selepas para pasukan tentara pergi meninggalkan kediaman Brigadir Jenderal Isaac Pandjaitan.
 
Dengan meneteskan air mata, Catherine memegang darah ayahnya yang terjatuh dilantai kemudian mengusapkannya ke wajah.***(Siti Ika Fatmawati)

Editor: Rahmat Fauzy

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X