• Senin, 23 Mei 2022

Pekerja di WHO Berperan Serta dalam Aksinya Melakukan Pelecehan Seksual di Kongo selama Krisi Ebola

- Rabu, 29 September 2021 | 21:05 WIB
Arsip - Layar bertuliskan pesan peringatan bahaya Ebola di Pantai Gading. Wabah Ebola di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone membuat negara-negara sekitarnya meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah penyebaran penyakit mematikan itu.  (Foto: ANTARA/Reuters)
Arsip - Layar bertuliskan pesan peringatan bahaya Ebola di Pantai Gading. Wabah Ebola di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone membuat negara-negara sekitarnya meningkatkan kewaspadaan untuk mencegah penyebaran penyakit mematikan itu. (Foto: ANTARA/Reuters)

LIPUTAN BEKASI - Lebih dari 80 karyawan bantuan termasuk beberapa orang yang bekerja dibawah naungan badan Organisasi Kesehatan Dunia atau disebut juga WHO terjerumus dalam masalah ekploitasi dan pelecehan seksual selama darurat Ebola yang berada di Republik Demokratik Kongo.

Hal tersebut disampaikan dalam sebuah Komisi Independen pada hari Selasa 28 September.

Penyelidikan pun berlangsung dan didorong oleh penyelidikan tahun lalu bersama Thompson Reuters Foundation serta The New Humanitarian di mana ada lebih dari 50 perempuan menunjuk para pekerja.

Bantuan dari WHO serta dari badan amal lainnya memaksakan untuk melakukan seks dengan berupa imbalan pekerjaan pada periode antara 2018 hingga 2020.

Baca Juga: Tingkat Keamanan Aplikasi PeduliLindungi Lemah, Pemerintah Harus Evaluasi Kebijakan Penggunaannya

Dikutip dari halaman Channel News Asia, pada hari Rbau 29 September 2021, dalam unggahannya yang telah lama dinanti nanti oleh masyarakat banyak.

Komisi independen mendapati setidaknya ada 21 dari 83 tersangka pelaku dipekerjakan oleh WHO, pelanggaran itu termasuk sembilan tuduhan pemerkosaan yang dilakukan oleh staf nasional maupun international.

Tanggapan Dari WHO Sendiri

Adhanom Ghebreyesus Direktur Jenderal dari WHO sendiri telah berjanji tidak akan menolerir pelecehan seksual dalam bentuk apapun dan Direktur ini sedang mencari masa jabatannya yang kedua di kursi badan kesehatan PBB.

Baca Juga: Wahyu Jovan Utama, Anak Ketiga Tukul Arwana Sedih Melihat Ayahnya Terbaring Lemah di ICU

Laporan itu mengatakan "mengerikan" dan secara langsung meminta maaf kepada korban.

"Apa yang telah terjadi pada anda seharusnya tidak akan terjadi lagi pada siapapun. perbuatan itu semestinya tidak bisa dimaafkan. hal utama yang bisa saya pastikan adalah, para pelaku tidak akan dimaafkan tetapi akan dimintai segala pertanggungjawabannya," Ujarnya.

Yang menjanjikan sebuah langkah langkah lebih lanjut.

Regional Direktur yang bernama Matshidiso Moeti mengucapkan badan kesehatan dunia WHO merasa "Hancur dan Patah Hati" dengan temuan tersebut.

Baca Juga: Sebanyak 800 Siswa Tidak Hadir Saat Melakukan PTM, Sudah Nyaman Belajar melalui Online

Halaman:

Editor: Refly Rafesqy

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X