Harga Telur Jeblok, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi Siap Borong untuk Bansos

photo author
Anggie Ayuni Nurfakhirah, Liputan Bekasi
- Selasa, 28 September 2021 | 16:15 WIB
Peternak ayam petelur. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)
Peternak ayam petelur. (Ayotasik.com/Irpan Wahab Muslim)
LIPUTAN BEKASI - Beberapa hari ini harga telur sedang mengalami anjlok yang membuat para peternak ayam menjerit dan merugi. 
 
Harga telur anjlok sudah terjadi sejak bulan Agustus lalu dengan kisaran harga Rp 19.000 hingga Rp 25.000 per kilogramnya tergantung wilayah masing-masing.
 
Hingga hari ini nampaknya harga telur terus mengalami jeblok dan belum menemukan titik terangnya.
 
 
Menurut data yang didapat dari Perhimpunan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia bahwa harga telur di Banten, Jawa Barat, dan Jabodetabek sekitar Rp 14.000 per kilogram.
 
Didaerah lain, seperti Jawa Tengah dan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) mencapai Rp 14.000 hingga Rp 17.000 perkilo gram.
 
Sedangkan untuk Bali, Lombok, dan Jawa Timur rata-rata antara Rp 14.000 hingga Rp 15.000 per kilogram.
 
Hal ini mendapat perhatian dari Kementerian Pertanian RI yang akan berusaha untuk melakukan stabilisasi pada harga telur dengan beberapa langkah.
 
Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan membeli telur-telur dari berbagai sentra produksi yang diketahui harganya lebih murah daripada yang tercantum dalam Permendag Nomor 7 Tahun 2020.
 
Kabar terbaru datang dari perusahan BUMN bidang peternakan, Berdikari yang membantu menyerap 5 ton telur dari peternak didaerah Blitar.
 
 
Berdasarkan data, terdapat 34 ton telur yang merupakan total dari keseluruhan telur yang diserap dari peternak di Indonesia oleh perusahaan BUMN tersebut.
 
"Tentunya, BUMN Peternakan yang merupakan bagian dari BUMN Klaster Pangan, kami memiliki kewajiban hadir di tengah masyarakat," tutur Direktur Utama Berdikari, Harry Warganegara dalam siaran pers yang dikutip Kompas.com, Kamis, 23 September 2021.
 
"Tidak hanya bagi konsumen umum, namun juga bagi peternak. Hal ini menjadi dasar kenapa Berdikari menyerap telur dari peternak unggas," tambahnya.
 
 
Solusi lain datang dari Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi yang menyiapkan langkah untuk memperbaiki harga telur yang jeblok.
 
Dengan memanfaatkan telur-telur hasil serapan dari para peternak di Indonesia untuk bantuan sosial (bansos) yang diberikan oleh pemerintah.
 
"Harga telur ini karena memang daya belinya turun. Secara nasional harga telur berada sekitar 10-20 persen dari harga standar Kementerian Perdagangan," jelasnya, Sabtu, 25 September 2020.
 
 
Sebelumnya, permasalahan ini sudah dibahas dan didiskusikan pemerintah guna mendukung para peternak ayam petelur sehingga langkah ini dilakukan untuk menstabilkan harga.
 
Langkah ini pun diharapkan bukan hanya mampu menstabilkan harga telur namun juga dapat bermanfaat untuk mendukung gizi masyarakat Indonesia di kala pandemi COVID-19 ini.
 
Sebelumnya terdengar kabar terkait harga telur yang mencapai Rp 20.000 per kilogram yang diketahui ini menyentuh level terbawah dibanding dengan harga normalnya Rp 20.000 hingga Rp 25.000 per kilogram. 
 
Hal ini pun berdampak pada harga telur di agen yang menyentuh Rp 17.500 per kilogram.***
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Rahmat Fauzy

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X