Keberagaman Agama di Indonesia, Mengenal Kepercayaan Parmalim dari Tanah Batak!

photo author
Maleeha Farida, Liputan Bekasi
- Kamis, 22 Desember 2022 | 13:43 WIB
 Potret Kegiatan Ritual Ibadah Penganut Kepercayaan Parmalim (Sumber: Ensiklopedia Agama-Agama).
Potret Kegiatan Ritual Ibadah Penganut Kepercayaan Parmalim (Sumber: Ensiklopedia Agama-Agama).

LIPUTANBEKASI.COM - Penganut kepercayaan Parmalim berada di Tanah Batak, tepatnya di daerah sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir. 

Lokasi tepatnya di Hutatinggi, Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, sekitar 7 jam dari Medan dengan perjalanan darat.

Parmalim berasal dari kata Par-Malim atau Par-Ugamo Malim, yang berarti penganut agama Malim.

Keberadaannya sudah lama, jauh sebelum Indonesia merdeka dan tersebar di berbagai wilayah Sumatera Utara.

Samosir dan Toba Samosir (Tobasa) tidak hanya sebagai tempat tinggal mayoritas penganut Parmalim, melainkan juga merupakan pusat Parmalim.

Wilayah ini adalah Tanah Suci-nya Parmalim, Seluruh Indonesia. Kebanyakan pemerhati sosial agama dan budaya lebih mengenal keyakinan etnis Batak ini sebagai Parmalim Hutatinggi

Jumlah penganut Parmalim saat ini diperkirakan sekitar 22.000 jiwa atau mencakup 7.500 Kartu Keluarga.
 
Baca Juga: Berapa banyak uang hadiah Piala Dunia yang dimenangkan setiap tim Argentina

Konsep ketuhanan agama Parmalim itu seperti apa sih? Malim berarti suci dan hidup untuk mengayomi sesama dan meluhurkan Ompu Mulajadi Nabolon atau Debata (Tuhan Pencipta Alam).

Dalam kepercayaan Parmalim yang dianggap sebagai orang suci adalah Raja Sisingamangaraja adalah raja bagi bangsa Batak dan dia Rasul dari Mulajadi Nabolon.

Ada tiga aliran dalam Parmalim, yaitu aliran Raja Ungkap Naipospos yang berpusat di Hutatinggi, aliran Parmalim Baringin berpusat di Pangururan, dan aliran Raja Omat Manurung berpusat di Sigaol Porsea.

Nama rumah ibadah mereka adalah Bale Parsaktian atau Bale Parpitaan atau Bale Partonggoan. Setiap hari kebaktian, yaitu Sabtu, mereka berdatangan ke rumah peribadatannya di Desa Hutatinggi. 

Mereka datang dengan mencarter mobil, motor, atau mobil pribadi. Peribadatan dimulai sekitar pukul 11.00 WIB dan Selesai pukul 12.00 WIB.
 
Baca Juga: Inilah manfaat konsumsi makanan pedas untuk kesehatan tubuh, simak penjelasanya

Parmalim tersebar di Provinsi Sumatera Utara, seperti Kecamatan Pintu Pohan Meranti Tobasa, Tanah Datar Asahan, Jangga Tobasa, dan Onan Ganjang-Humbahas.

Penganut Parmalim juga tersebar di Panamparan Tobasa di Kabupaten Tanah Karo, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Simalungun, Asahan, Mandailing Natal, Tebing Tinggi, dan Kota Medan.

Sementara di tanah Jawa mereka terdapat di Kota Tangerang, Jakarta, dan Kota Bekasi. Wah, ternyata penganut Parmalim sudah sampai ke Pulau Jawa juga, ya!

Sebutan bagi anggota Parmalim sering dipanggil dengan "Ruat". Pimpinan Parmalim disebut Ulu Punguan (semacam pendeta).

Kompleks Bale Parsaktian di Hutatinggi ini memiliki empat bangunan berarsitektur Batak, yaitu Bale Partonggoan (balai doa), Bale Parpitaan (balai sakral), Bale Pangaminan (balai pertemuan), dan Bale Perhobasan (balai pekerjaan dapur).

Di atas Bale Parsaktian (wuwungan) terdapat simbol yang terdiri dari tiga (3) ekor ayam berwarna merah, hitam, dan putih. Lambang ini menurut Monang merupakan lambang "Partondion" (keimanan).

Yang pertama berwarna hitam (manuk jarum bosi) yang menunjuk kepada Batara Guru, ayam warna putih untuk Debata Sori, dan ayam warna merah untuk Bala Bulan.

Semua warna memiliki arti, hitam melambangkan kebenaran, putih melambangkan kesucian, dan merah adalah pengetahuan (kekuatan atau kekuasaan).

Ritual ibadah yang dilakukan oleh penganut kepercayaan Parmalim yaitu doa-doa yang diucapkan dan diikuti secara khusus oleh pengikutnya.

Dilakukan dengan mata terpejam dan kedua telapak tangannya dirapatkan dalam posisi menyembah.

Di depan ruangan hanya ada satu meja kecil untuk meletakkan tempat membakar kemenyan sebagai pelengkap ibadahnya.

Kemenyan (haminjon dalam bahasa Batak) itu baunya wangi yang berasal dari tanaman yang diciptakan Tuhan, itulah simbol paling tepat yang mereka persembahkan.
 
Baca Juga: Inilah manfaat konsumsi makanan pedas untuk kesehatan tubuh, simak penjelasanya

Ada dua kali ritual besar bagi umat Parmalim, yakni pertama, Parningotan Hatutubu Ni Tuhan atau Sipaha Sada. Ritual ini dilangsungkan saat masuk tahun baru Batak, yaitu pada awal Maret.

Ritual lainnya bernama Pameleon Bolon atau Sipaha Lima, yang dilangsungkan antara bulan Juni-Juli. 

Saat itulah tari tortor digelar sebagai bentuk pemujaan. Tarian itu diiringi Gondang Sabangunan yang merupakan alat musik orang Batak.

Ketika upacara berlangsung, laki-laki yang sudah menikah mengenakan sorban di kepala, serta memakai sarung dan selendang Batak, atau ulos. Sementara yang perempuan memakai sarung dan mengonde rambut mereka.

Inilah beberapa hari raya agama Parmalim. Hari raya utama Parmalim disebut Sipahasada (yaitu '[bulan] Kelima) yang secara meriah dirayakan di kompleks Parmalim di Hutatinggi.

Pada perayaan Sipaha Sada para penganut Ugamo Malim datang dari berbagai penjuru yang tersebar di 50-an komunitas dan sekitar 1500 KK.

Dari jumlah itu mereka tidak sekadar hadir, tetapi mereka aktif dan berpartisipasi dalam seluruh rangkaian upacara karena mereka meyakini bahwa Bale Pasogit adalah Huta Nabada (Tanah Suci).

Upacara Sipaha Sada dilaksanakan di dalam ruangan Bale Pasogit sedangkan upacara Sipahalima diadakan di luar karena teknis pelaksanaannya besar dan berciri kosmis. 

Menurut Raja Marnangkok Naipospos selaku pimpinan umum Ugamo Malim saat ini, upacara Sipaha Sada merupakan pembuka tahun dan hari yang baru bagi penganut Parmalim Hutatinggi.

"Inti pesta Sipaha Sada ialah menyambut kelahiran dan kedatangan Tuhan Simarimbulubosi dan para pengikut setianya."

Guru Somalaing Pardede adalah tokoh kharismatik. Sebagai tokoh spiritual dan politik ahli strategi, beliau selalu nekat melakukan aksi pengorganisasian Hamalimon.

Oleh karena itu, Sisingamangaraja XII lebih mempercayainya sebagai penasihat. Raja Mulia Naipospos Ugamo Malim adalah agama leluhur Batak yang dianut Raja Sisingamangaraja I sampai XII. 

Setelah Sang Raja mangkat, murid setianya Raja Mulia Naipospos meneruskan amanah untuk memimpin dan meneruskan amanah untuk memimpin. 

Ia juga dipercaya meneruskan ajaran Ugamo Malim sebagai ihutan (pemimpin spiritual) yang bertempat tinggal di Hutatinggi.***
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Andini P.

Sumber: Ensiklopedia Agama-Agama

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X