LIPUTAN BEKASI - JB Straubel merupakan Co-Founder dan CEO (Chief Executive Officer) dari Startup Redwood Materials. Melalui wawancaranya dengan Bloomberg pada 22 September lalu.
Straubel telah memaparkan bagaimana perusahaannya akan membantu daur ulang bahan utama dalam baterai lithium-ion.
Bahan baku utama pembuatan baterai baru untuk kendaraan listrik yang dibuat oleh Ford akan dibantu dengan Startup Redwood Materials.
Baca Juga: Presiden Joko Widodo Resmikan Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama Di Indonesia Dan Asia Tenggara
Seperti yang diketahui, teknologi berbasis listrik terutama dibidang otomotif saat ini sedang berkembang sangat pesat didunia.
Energi baterai lithium-ion semakin banyak dibutuhkan sebagai bahan energi kendaraan listrik karena memiliki performa yang sangat baik.
Hal tersebut menyebabkan permintaan material lithium-ion semakin tinggi. Namun, bahan baku baterai lithium-ion banyak diperoleh dari aktivitas pertambangan material nikel yang kebanyakan dijumpai di wilayah Amerika.
Baca Juga: Ikan Hiu Menjadi Tersangka Atas Kasus Hilangnya Sinyal Telkomsel dan Indihome di Indonesia
Tentu saja aktivitas pertambangan besar-besaran akan menyebabkan dampak buruk pada lingkungan dan kerusakan alam.
Straubel mengatakan bahwa untuk mengatasi dampak lingkungan akibat pertambangan nikel adalah dengan cara mendaur ulang baterai lithium-ion yang sudah tidak terpakai atau rusak.
Redwood Materials didirikan untuk membuat rantai pasokan bahan baku dan membuat teknologi serta cara memproses daur ulang baterai lithium-ion.
Baca Juga: HyperX Bergabung Dengan Daftar Mouse Yang Kompatibel Dengan NVIDIA Reflex
Barang-barang elektronik yang sudah tidak digunakan seperti telepon genggam yang menggunakan baterai berbahan lithium-ion dikumpulkan. Selanjutnya akan dilelehkan dan dipisahkan hingga menghasilkan lithium karbonat.
Menurut Straubel, langkah daur ulang tersebut lebih efektif dibandingkan dengan aktivitas pertambangan. Dengan daur ulang bisa mengubah sesuatu yang tidak terpakai menjadi sesuatu yang bernilai.