Sedangkan, satunya lagi adalah slavofilisme yang menganggap bahwa Rusia harus melestarikan tradisinya.
Dan bahwa Westernisasi negara tersebut merupakan penyimpangan yang membuatnya kehilangan identitasnya yang dalam.
Tokoh aliran ini: Ivan the Terible, Leo Tolstoy, atau Alexander Dougine.
Sejak kepemimpinan Putin, aliran Slavofilisme yang memegang pengaruh mutlak dan untuk memelihara pengaruhnya.
Baca Juga: Fakta Unik Bandara Lukla, Bandara Paling Berbahaya Di Dunia
Maka dari itu, propaganda kebencian terhadap Barat semakin diperbanyak sehingga menghasilkan situasi seperti yang sekarang.
Keruntuhan Uni Soviet oleh rakyat Rusia dianggap sebagai sebuah bencana yang disebabkan oleh Barat.
Dendam terhadap peristiwa ini masih teringat segar di ingatan generasi yang lahir setelahnya berkat sejarah yang mereka pelajari di sekolah.
Banyak yang merindukan kejayaan masa lampau dan menyesali hilangnya pengaruh Rusia bahkan di zona sekelilingnya.
Baca Juga: Jangan Dibuang! Tinta Cumi-Cumi Memiliki Manfaat Istimewa Yang Jarang Diketahui
Negara-negara bekas pakta Warsawa beralih menjadi anggota NATO dan Uni Eropa, meninggalkan Rusia sendirian.
Rusia merasa dipermalukan. Kebencian mereka yang berlipat ganda membuat mereka menganggap Barat sebagai setan.
Pengaruh yang semakin mengecil ini membuat Rusia menjadi negara agresif dan suka berperang.
Dalam sejarah, skema yang sama juga dialami oleh Prancis pada era Napoleon dan Jerman pada Perang Dunia.
Baca Juga: Mengenal Chocolate Cosmos, Bunga yang Memiliki Aroma Seperti Coklat
Artikel Terkait
Ledakan di Jembatan Kerch bikin Rusia ketar ketir!
Balas dendam! Rusia bergerak maju sejumlah wilayah Ukraina
Serangan Pesawat Tak Berawak Rusia Menyebabkan Kebakaran di Ibukota Ukraina
FIFA Meminta Gencatan Senjata Antara Rusia dengan Ukraina Selama Piala Dunia
Rusia Dikabarkan Serang Rudal ke Anggota NATO Polandia, saat Bersamaan dengan KTT G20
Rusia Blokir Ribuan Situs LGBT, Tokoh NU Gus Umar Sentil Indonesia