LIPUTANBEKASI. COM - Amalan yang akan pertama kali dihisab dari seorang hamba pada kiamat nanti adalah ibadah shalat yang dilakukannya selama hidup.
Menegakkan shalat berarti tidak hanya mengunggurkan kewajiban perintah shalat, tapi juga benar dalam melaksanakannya.
Hal ini akan tercermin dalam kehidupan dan perilaku sehari - hari seorang Muslim, begitu pula remaja yang mengaku Muslim.
Dalam mengasah diri untuk memahami lebih dalam mengenai dasar - dasar hukum shalat, mari kita simak 8 tanya jawab menarik tentang dasar hukum shalat berikut ini.
1. Apa yang Membuat Shalat itu Indah?
Tidak mudah menjawab pertanyaan ini karena kata 'indah' erat hubungannya dengan penglihatan, pendengaran, dan hati.
Indahnya shalat tidak sah dilihat dari peragaannya, tapi juga dengan memaknai seluruh hakikatnya.
Sebab itu, tidak mungkin dengan penjelasan singkat ini, kamu terus mengerti.
Bukan hanya manusia saja yang diperintahkan Allah SWT. untuk beribadah.
Pada tanya jawab selanjutnya, mengenai makhluk lain yang juga beribadah kepada Allah. Simak penjelasannya.
2. Matahari Bertasbih Kepada Allah seperti Ibadah Shalat yang Dilakukan Manusia?
Kalau kamu melihat matahari terbit dari timur, lalu tenggelam di ufuk barat. Coba perhatikan, ia datang dengan tenang lalu menghilang dengan tenteram.
Esok pagi, ia melakukan hal yang sama tanpa melakukan kesalahan sama sekali. Apakah kamu menangkap pesan dari matahari?
Sesungguhnya matahari itu bertasbih kepada Allah SWT. Ia berjalan pada garis edarnya sebagai tanda tunduk dan taat pada aturan Allah Ta'ala.
Ia tidak pernah gagal menyebarkan cahayanya pada bumi dan ia sukses meluruskan kegelapan sebagai tanda siang berganti malam.
Ketika ia bertasbih, ia tak pernah mengingkari janji.
Matahari senantiasa menyebarkan cahaya kehidupan sebagai rahmat bagi seluruh makhluk. Tidak pernah sedikit pun ia mengkhianati tugasnya, hingga hari kiamat tiba.
Baca Juga: Honda Telah Meluncurkan Skuter Listrik EM1 e di EICMA, Akankah Tersedia di Indonesia Tahun Depan?
3. Apa Hubungannya dengan Shalat itu Indah?
Setiap makhluk memiliki kewajibannya masing-masing. Kewajiban umat manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT.
Jika kita tarik garis sejajar terhadap tugas yang diberikan kepada umat manusia, relevansi cara-cara bertasbih matahari memberi pesan indah kepada umat manusia.
Hal ini agar manusia taat (ikhlas) menjalankan kewajiban sesuai dengan perintah Allah Azza WA Jalla melalui tuntunan Rasulullah saw..
4. Bagaimana Cara Mendirikan Shalat yang Baik?
Ibadah pokok yang ditugaskan Allah kepada kita selaku umat Muslim adalah shalat. Kata kuncinya:
• Apakah cara shalat kita itu sudah sesuai perintah Allah?
• Apakah cara shalat kita sudah mengikuti Rasulullah?
Kamu harus mendirikan shalat disertai dengan pemahaman ilmunya. Menjalankan perintah shalat tidak sekadar menggugurkan kewajiban ritual shalat. Ia mempunyai etika, aturan, tata tertib, dan tuma'ninah shalat.
5. Orang Sering Bilang: "Yang penting Shalat! Kita ini masih mending mau mengerjakan, dibanding yang enggak shalat? "
Membandingkan yang shalat, tidak bisa dengan yang tidak shalat. Artinya sesuatu tidak ada, jangan pernah dibandingkan dengan yang ada.
Itu karena, yang ada akan selalu memiliki kesempatan lebih baik dari yang tidak ada. Dalam konteks shalat tidak demikian.
Mereka yang tidak shalat jelas disebut kafir (al-kafir). Allah memastikan, sebaik-baiknya tempat yang disediakan bagi orang-orang kafir adalah neraka.
6. Benarkah Orang yang Shalat itu Punya Kesempatan Lebih Baik dari yang Enggak Shalat?
Maha Benar Allah. Sungguh Dialah yang berkehendak atas umat-Nya untuk mendirikan shalat lima waktu.
Tak terkira banyaknya kebaikan di balik perintah shalat yang dijanjikan Allah untuk umat-Nya.
Tidak saja membekali kehidupan sekarang, tapi lebih besar untuk bekal pulang ke akhirat nanti.
Janji Allah adalah sebuah kepastian. Dialah yang menentukan hukum-hukum atas kebenaran itu.
Sebab itu, Allah memandang perlu adanya pagar aturan yang menggiring manusia agar tidak melalaikan shalat.
"Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya." (al-Maa'uun:4-5).
7. Apakah yang Membuat Shalat Wajib Dikerjakan?
Menurut keterangan para ahli hadits yang bisa dipertanggungjawabkan dunia-akhirat:
a. Shalat itu tiang agama,
b. Shalat adalah syarat penentu dapat diterimanya amal ibadah yang lain,
c. Shalat adalah batas pemisah antara Muslim dengan Kafir.
Keterangan di atas itu merupakan tonggak pemancang yang memberi batas dunia Islam terhadap dunia lain yang di applied ke dalam kewajiban shalat.
Jadi, shalat adalah perilaku wajib seorang Muslim kepada Tuhannya sebagai realisasi dari bentuk ibadah pokok agama Islam.
8. Mengapa Harus Mendirikan Shalat dan Apa Dasarnya?
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk shalat karena shalat merupakan sistem informasi penilaian untuk mengukur kualitas manusia.
Apakah manusia akan tunduk dan taat kepada-Nya, atau kebalikannya. Kenapa begitu? Sebab Dialah pemilik kehidupan manusia.
Maka, Dialah yang berhak memberi perintah serta menilai kualitas manusia dari bagaimana menegakkan shalatnya.
Karena itu, wajib hukumnya bagi umat yang mengaku Muslim untuk menyembah Allah dan diamalkan ke dalam bentuk ibadah.
Tentu yang disyariatkan agama Islam, yaitu shalat adalah syarat penentu dapat diterimanya amal ibadah yang lain.
Jika shalat merupakan pokok ibadah, maka apabila amalam shalat tertolak, gugurlah semua amalan yang lain.
Ada banyak bukti perintah Allah SWT. tentang shalat yang tercantum di dalam Al-Qur'an, diantarnya sebagia berikut.
a. QS. Thaahaa: 14
"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku. "
b. QS. al-'Ankabuut: 45
".... dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar.... "
c. QS. Ali 'Imran: 83
".... padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa.... "
Berdasarkan hadits tentang shalat:
"Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba di hari kiamat adalah shalatnya. Maka apabila shalatnya baik, menanglah dia dan terbebas dari siksa Allah. Dan apabila rusak shalatnya, sungguh rugilah dia serta sia-sia (gugur) amalnya. " (HR Abu Dawud). ***