Kenali Apa Itu Cancel Culture (Budaya Pengenyahan), Sanksi Sosial yang Diberikan Netizen Pada Rachel Venya

photo author
Esterina Mayretha Jessica, Liputan Bekasi
- Sabtu, 22 Januari 2022 | 07:00 WIB
Ilustrasi Cancel Culture yang yang disematkan kepada publik figur karena perbuatan atau perkataan yang menimbulkan kontroversi. (Pinterest)
Ilustrasi Cancel Culture yang yang disematkan kepada publik figur karena perbuatan atau perkataan yang menimbulkan kontroversi. (Pinterest)

LIPUTANBEKASI.COM - Kegeraman netizen semakin menjadi-jadi ketika melihat selebgram dan influencer Rachel Venya tetap menjalankan bisnis endorse-nya yang kian sukses.

Kegeraman netizen ini kemudian memicu aksi mereka untuk bersama-sama melakukan cancel culture atau budaya pengenyahan bagi selebgram Rachel Venya.

Ungkapan cancel culture ini memiliki konotasi negatif dan biasanya dipakai dalam istilah-istilah perdebatan bernuansa kebebasan berbicara.

Cancel culture adalah sebuah bentuk pengucilan modern di mana seseorang dikeluarkan dari lingkungan sosial atau profesional.

Baca Juga: Daftar Nama Pemain Timnas Putri Australia di Piala Asia Wanita 2022, Setengahnya dari Klub Besar Eropa

Biasanya, pengucilan modern ini dilakukan secara daring di media sosial, di dunia nyata, ataupun keduanya.

Gagasan cancel culture ini adalah sebuah bentuk boikot untuk individu (biasanya terjadi pada public figure, artis, influencer) yang memiliki pengaruh kepada publik.

Secara harfiah, cancel artinya batal, yang berarti seseorang harus dibatalkan atau berhenti memberi dukungan pada orang itu.

Baca Juga: Prabowo Subianto Resmi Merubah Logo Kemhan, Ini Makna dan Filosofinya

Cancel culture atau budaya pengenyahan berarti sebuah penarikan atau pengenyahan dukungan bagi seorang publik figur atau orang yang berpengaruh pada publik.

Hal ini biasanya dilakukan setelah mereka melakukan atau mengatakan sesuatu yang tidak sepantasnya dilakukan dan dicontoh oleh publik.

Mereka yang mendapatkan cancel culture biasanya dianggap telah bertindak atau berbicara dengan kontroversial.

Baca Juga: Mutiara Hikmah Quraish Shihab, Konsep Iman Kepada Takdir Ala Sayyidina Umar bin Khattab

Konsekuensi yang didapat setelah menjadi sasaran cancel culture kebanyakan jadi kehilangan reputasi dan pendapatan yang sulit untuk dipulihkan kembali.

Jika sebuah acara televisi menayangkan hal yang dipertanyakan oleh audiens atau kontroversial kemudian mendapat rating yang buruk, maka acara televisi tersebut telah “di-cancel”.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Supriyatna

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X