Mengenang Tiga Tahun Gempa dan Tsunami yang Terjadi Di Palu dan Donggala

photo author
Anggie Ayuni Nurfakhirah, Liputan Bekasi
- Selasa, 28 September 2021 | 22:52 WIB
Kerusakan dampak gempa Palu. (Foto /dok/iNSulteng.com)
Kerusakan dampak gempa Palu. (Foto /dok/iNSulteng.com)

LIPUTAN BEKASI - Tiga tahun lalu, Gempa dengan kekuatan M 7,4 disertai tsunami menerjang Kota Palu, Sigi dan Donggala di Provinsi Sulawesi Tengah.

Tepat pada 28 September 2018 pukul 18.02 WITA gempa tersebut terjadi dan menewaskan 2000 orang, puluhan warga luka-luka dan terpaksa harus mengungsi.

Diketahui episentrum atau pusat letak gempa berada sekitar 2 jam dari Kota Palu tepatnya di Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala.

Berdasarkan informasi dari BNBP, gempa tersebut termasuk gempa bumi yang dangkal diakibatkan adanya aktivitas sesar Palu Koro yang dibangkitkan oleh deformasi dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar mengiri (slike-slip sinistral).

Baca Juga: Ambil Jalur Hukum, Luhut Pidanakan dan Perdatakan Haris Azhar dan Fatia Atas Fitnah yang Dilayangkan

Gempa yang terjadi sangat kuat hingga beberapa Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan sebagian Kalimantan Timur serta Sulawesi Selatan Gorontalo, dan Sulawesi Utara. Di Makassar misalnya, getaran sempat dirasakan beberapa detik. Bahkan di daerah Bosowa, karyawan berlarian dan berhampuran meninggalkan gedung.

Gempa yang terjadi memicu tsunami di Kota Palu dan Donggala dengan ketinggian 4 hingga 13 meter. Selain itu, hal ini juga menyebabkan lukuefaksi di petobo, Balaroa Kota Palu dan Jono Oge, Kabupaten Sigi.

Beberapa daerah di Pasigala naik sampai 2 meter dan adapula yang amblas. Begitupula di daerah Petobo terdapat ratusan rumah tertimbun oleh lumpur hitam dengan tinggi 3-5 meter.

Baca Juga: Anggota Brimob Muhammad Kurniadi Gugur Ditembak oleh KKB di Kiwirok Papua

Setelah gempa terjadi, tanah di daerah tersebut mulai berubah menjadi lumpur dan banyak bangunan-bangunan diatasnya yang terseret oleh lumpur tersebut. Bahkan di daerah Balaroa, rumah-rumah amblas terisap tanah.

Muncul juga Laporan dan rekaman likuefaksi dari perbatasan Kabupaten Sigi dan Kota Palu.

Dari bawah permukaan tanah timbul lumpur yang menyebabkan pergeseran tanah sampai puluhan meter dan berakhir menenggelamkan banyak orang dan bangunan-bangunan.

Baca Juga: Ungkap Harta Tersangka Korupsi Azis Syamsuddin, dari Motor Beat sampai Land Cruiser

Hal ini menyebabkan 2000 orang tewas, ribuan orang terpaksa mengungsi karena kehilangan tempat tinggalnya, serta ratusan ribu bangunan yang mengalami kerusakan baik ringan hingga berat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Nurrijal Fahmi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X