nasional

Setelah Sebut Jokowi King Of Lip Service, Kini BEM UI Mengkritik Presiden Jokowi Lagi

Selasa, 21 September 2021 | 06:15 WIB
Meme foto Presiden Joko Widodo The King Of Lip Service yang diunggah di Instagram BEM UI/Foto Instagram BEM UI

LIPUTAN BEKASI - BEM UI atau Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia kembali menyerang Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) melalui akun Twitter @BEMUI_Official pada Senin, 20 September 2021 kemarin.

Sebelumnya Jokowi pernah dikritik oleh BEM UI sebagai Raja Bohong atau Raja Omong Kosong dengan sebutan "King Of Lip Service".

Baca Juga: Presiden Joko Widodo Resmikan Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama Di Indonesia Dan Asia Tenggara

King Of Lip Service disematkan kepada Jokowi karena BEM UI menilai Presiden tidak mampu membuktikan kepada masyarakat atas semua yang disampaikan setiap kali berbicara.

Media Sosial beberapa waktu lalu sempat dihebohkan dengan munculnya poster Presiden Indonesia Joko Widodo dengan tulisan Jokowi King Of Lip Service.

Baca Juga: TNI AL Minta Pembuktian, Oposisi dan Ketua DPR Kompak Khawatir ke Kapal Perang China di Natuna

Presiden Jokowi sempat menanggapi kritik pedas yang disampaikan oleh BEM UI itu ketika ditanya oleh beberapa wartawan. "Saya kira ini bentuk ekspresi mahasiswa dan ini negara demokrasi. Jadi kritik itu ya boleh boleh saja dan universitas tidak perlu menghalangi mahasiswa berekspresi," jawab santai Jokowi.

Tidak lama berselang setelah Jokowi memberikan tanggapan, rupanya BEM UI malah mengkritik persoalan lain tentang kebebasan berpendapat di negeri ini.

Baca Juga: Taliban Akan Bentuk Pemerintahan Baru Afganistan Besok Setelah Salat Jumat

Melalui cuitan Twitter @BEMUI_Official pada 20 September 2021 menyampaikan "Presiden Jokowi pernah meminta masyarakat untuk aktif menyampaikan kritik," tulis BEM UI

BEM UI juga menyertakan hasil survei LP3ES (Lembaga Penelitian Pendidikan Penerangan Ekonomi dan Sosial) dalam cuitannya, "Akan tetapi, menurut survei, sebanyak 52,1 persen masyarakat Indonesia merasa bahwa ancaman kebebasan sipil meningkat dan berakibat pula terhadap meningkatnya ketakutan masyarakat dalam berpendapat, berekspresi, berkumpul, dan berserikat," sebutnya.

Baca Juga: Segala Upaya Untuk Melewati Pandemi COVID-19, Pemerintah Datangkan Vaksin Pfizer Asal Amerika

UU ITE pun tidak lepas dari kritikan BEM UI, menyebutnya UU ITE membuat masyarakat takut menyampaikan kritikan untuk Pemerintah.

"Berbagai pembungkaman dan tindakan represif dilakukan melalui UU ITE dan tangan aparat. Rezim ini punya banyak nama, salah satunya adalah rezim antikritik," Lanjut cuitan BEM UI.

Baca Juga: Posisi 43 Paralimpiade Tokyo 2020, Kontingen Indonesia Tetap Bangga Kepada Semua Atlet

Halaman:

Tags

Terkini