LIPUTAN BEKASI – Dalam artikel ilmiah di jurnal Marine Pollution Bulletin pada Agustus lalu, menyebutkan terdapat kontaminasi parameter termasuk paracetamol di teluk Jakarta yakni perairan Ancol dan Angke yang melebihi standar kualitas air laut Indonesia.
Fakta tersebut diungkap para peneliti dari pusat penelitian Oceanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Konsentrasi tertinggi paracetamol ditemukan di Angke dengan kadar 610 Nanogram/liter dan Ancol 420 Nanogram/Liter.
Pencemaran di perairan Teluk Jakarta ini diduga akibat konsumsi obat obatan dari masyarakat yang secara berlebihan termasuk paracetamol.
Baca Juga: BMKG Memprediksi Jakarta Cerah Berawan, Hingga Bekasi Hujan Sejak Siang
Meski pencemaran Paracetamol di perairan Teluk Jakarta masih diteliti,namun para nelayan mengaku kerap menemui bangkai ikan, dan sering menemui warna air berwarna merah dan kecoklatan,serta bercampur dengan sampah.
Zainal Arifin selaku peneliti ahli utama bidang pencemaran laut (BRIN) seperti dikutip dari Kompastv (3 Oktober 2021) menjelaskan bahwa penelitian ini masih dalam tahap awal.
Untuk selanjutnya melakukan tahap reset ke laboratorium.Karena mereka juga belum mengetahui secara pasti apa penyebab dari pencemaran ini.
Kontaminasi Paracetamol ini diduga bisa berdampak pada populasi produk ikan di laut Jakarta, dan mengakibatkan kerusakan reproduksi pada kerang laut.
Sumber pencemaran tersebut diduga berasal dari limbah rumah tangga,komersial maupun industri dan aktivitas sehari hari manusia yang terbuang melalui urin yang tidak dikelola dengan baik.
Untuk memastikan sumber dari pencemaran ini,Tim lingkungan hidup mengambil sampel dari dua lokasi.
Baca Juga: Onadio Leonardo Sangat Terpukul, Terimakasih Malaikat Kecilku
Yaitu perairan Ancol dan perairan muara Angke guna untuk di teliti di laboratorium.