LIPUTAN BEKASI - Selama pandemi Covid-19, depresi dan kecemasan pada remaja meningkat dua kali lipat dibandingkan sebelum pandemi.
Menurut penelitian di Amerika Serikat (AS), Satu dari empat remaja mengalami gejala depresi, sementara satu dari lima remaja mengalami gejala kecemasan.
"Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa pandemi kemungkinan telah memicu krisis kesehatan mental pada anak muda," kata penulis studi Sheri Madigan, seorang profesor psikolog klinis dan ketua penelitian Canada dalam determinan perkembangan anak di University of Calgary.
Jumlah kumulatif ini dapat disebabkan oleh isolasi sosial yang terus-menerus, masalah keuangan keluarga, dan kesulitan belajar yang berkepanjangan.
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS. Pandemi menciptakan kondisi yang mungkin memperburuk perasaan negatif ini.
Dengan penutupan sekolah dan pembelajaran jarak jauh, anak-anak mengalami kehilangan interaksi dengan teman sebayanya.
Perubahan ini mungkin telah berkontribusi pada peningkatan gejala depresi mereka seperti perasaan sedih, kehilangan minat dalam aktivitas, gangguan nafsu makan dan mengalami susah tidur (Insomnia).
Baca Juga: Presiden Joko Widodo Resmikan Pabrik Baterai Mobil Listrik Pertama Di Indonesia Dan Asia Tenggara
Selain itu, ketidakpastian umum dan gangguan rutinitas sehari-hari yang disebabkan oleh pandemi kemungkinan meningkatkan gejala kecemasan umum dimasa muda, termasuk ketakutan, kekhawatiran yang tak terkendali, dan hyperarousal.
Kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga dan teman-teman karena penyebaran Covid-19 juga kemungkinan berkontribusi pada meningkatnya kecemasan anak-anak.
"Anak-anak dan remaja telah mengalami gangguan dan stres yang luar biasa selama pandemi, dan itu berdampak pada kesehatan mental mereka," kata Madigan.
Baca Juga: Piala Sudirman 2021 Akan Digelar Ahad, Tim Indonesia Sudah Tiba dan Siap Bertanding di Finlandia
"Ketika masalah kesehatan mental berlanjut dan tidak ditangani dengan benar, mereka dapat memiliki konsekuensi yang besar," tambahnya.
Temuan penelitian ini konsisten dengan apa yang dikatakan Jenna Glover, seorang psikolog klinis anak dan direktur pelatihan psikologi di Children's Hospital Colorado, yang dia lihat di lapangan. Dia tidak terlibat dalam penelitian.
Artikel Terkait
Tangis Bahagia Menghampiri Ria Ricis dan Teuku Ryan Saat Lamaran
Dirlantas Gelar Operasi Patuh Jaya 2021, Sekitar 400-500 Pelanggar Perhari Sebut Polisi
Piala Sudirman 2021 Akan Digelar Ahad, Tim Indonesia Sudah Tiba dan Siap Bertanding di Finlandia
Indonesia Dapat Investasi 36 Triliun Rupiah, Proyek Kabel Australia Bakal Lewat Bawah Laut Indonesia
Susu Sapi Mentah Tidak Boleh Dikonsumsi Langsung, Ini Mitos dan Faktanya
Penyimpangan Seksual di Bekasi, Seorang Anak Laki - laki Umur 11 Tahun Dicabuli Seorang Pria
18 Saksi Diperiksa Dalam Kasus Penganiayaan Youtuber Muhammad Kece Lapas