LIPUTAN BEKASI – Pasukan Perang Salib yang diketahui memiliki pergerakan nomaden, kini terlihat berbeda dari yang sebelumnya.
Pasukan tersebut bahkan pernah mendiami Israel di sebuah lokasi lokasi yang tertentu saja, para peneliti menemukan situs yang di duga-duga bekas kamp dari pasukan tersebut.
Kamp ini ditemukan di dekat mata air yang bernama Tzippori, Tzippori sendiri hanya berjarak kurang lebih 30 kilometer dari sungai Tiberias.
Temuan ini terjadi berkat dari sebuah pekerjaan yang diketuai oleh Divisi Prasejarah Otoritas Barang Antik Israel Utara. Ketua dari pemimpin proyek ini bernama Nimrod Getzov dan Ianir Milevski. Pekerjaan ini telah mereka kerjakan selama 6 tahun lamanya.
Baca Juga: Mulai November Nanti Sirkuit Mandalika Sudah Bisa Beroperasi
Menurut seorang arkeolog bernama Rafi Lewis, pasukan dari perang salib ini cenderung berkemah di sekitar sumber air. Oleh sebab itu, wajar bila para prajurit mereka berkemah di wilayah Tzippori.
Tak hanya itu, Lewis juga menjelaskan tempat ini seringkali dijadikan sebagai situs perkemahan prajurit Kristen ataupun dengan Bahasa yang lain adalah prajurit Ayyubiyah.
Dari desas desus tersebut, para prajurit menghabiskan waktu di Kawasan itu dengan mengganti paku besi dari kuda mereka masing masing, seperti yang dikutip dari Haaretz.
Baca Juga: Aryan Khan Ditangkap NCB Saat Pesta Narkoba di Kapal Pesiar
Lewis menyampaikan, pasukan perang salib itu bersiap keluar dari Tzippori pada tanggal 3 Juli. Namun, masih belum diketahui pasti apa yang menjadi tujuan mereka, entah mereka mau menuju ke Tiberias atau ke tempat mata air Hattin.
Dihari esoknya, tepatnya pada tanggal 4 Juli, para pasukan ini dihancurkan oleh pasukan Ayyubiyah Sultan Saladin dalam pertempuran di mata air Hattin, dilansir dari salah satu seri dari perang salib tersebut.
Lewis juga menjelaskan, walaupun tidak jelas kapan pasukan Kristen mulai menggunakan kamp Tzippori, wilayah tersebut pernah menjadi titik kumpul Angkatan bersenjata pada tahun 1130.
Baca Juga: Pemerintah Batal Menerapkan PPN untuk Sembako
Lewis juga membuat kesimpulan, tampaknya pasukan pasukan umat Muslim dan Kristen menggunakan situs itu selama lebih dari 125 tahun yang lalu.