Berkencan, Menikah, dan Memiliki Keturunan dihindari Warga Korea Selatan, Apa Alasannya?

photo author
Tim Liputan Bekasi 01, Liputan Bekasi
- Kamis, 30 September 2021 | 09:00 WIB
ilustrasi pasangan (pixabay)
ilustrasi pasangan (pixabay)
 
LIPUTAN BEKASI- Berkencan, menikah, dan memiliki keturunan dihindari oleh banyak kalangan anak muda yang berada di Korea Selatan.
 
Hal itu bertujuan untuk membangkitkan kembali ekonomi yang melambat berkepanjangan dan dampak dari melonjaknya harga rumah dengan menurunkan angka kelahiran di Korea Selatan.
 
Mereka yang berusia 30-an lebih dari 42 persen membuat kesepakatan untuk tidak meneruskan kedalam jenjang pernikahan.
 
Pada 27 September 2021 data sensus menunjukkan, banyak anak muda yang tidak ingin melanjutkan kedalam jenjang pernikahan.
 
 
Mereka menyerah dan berhenti dikarenakan perekonomian yang melambat berkepanjangan, dan menyadari bahwa memerlukan modal yang cukup besar ketika ingin mengadakan pesta pernikahan. 
 
Dari 13,7 juta jiwa penduduk yang sudah berusia 15 tahun lajang, dan yang berusia 30-an mencapai 2,82 juta jiwa masih berstatus lajang pada tahun lalu, di lima tahun sebelumnya angka tersebut naik mencapai 2,68 juta jiwa penduduk.
 
Hal ini sesuai dengan data sensus pada tahun 2020.
 
 
42,5 persen tahun lalu pencapaian masyarakat yang berusia 30-an yang belum menikah, kemudian naik menjadi 6,2 persen dari 36,3 persen pada tahun 2015.
 
Hal tersebut menjadi  tanda untuk kali pertama kelompok masyarakat yang berusia 30-an mencapai 40 persen untuk tetap memutuskan dalam mempertahankan satusnya single alias melajang.
 
Banyak pria yang berusia 30-an yang memutuskan untuk tidak menikah, hal ini mencapai 50,8 persen, sedangkan bagi kaum wanita yang memutuskan untuk tetap melajang hanyalah 33,6 persen. 
 
 
Tingkat kesuburan seorang perempuan untuk melahirkan bayi pada tahun lalu mencapai rekor terendah, yakni 0,84.
 
Hal tersebut menjadi persentase yang paling menurun dari replacement level 2,1 yang menjadikan populasi Korea Selatan mengalami kesetabilan di angka 51 juta jiwa penduduk.
 
Penundaan pernikahan yang diputuskan oleh para pemuda di Negara Korea Selatan disebabkan oleh adanya pandemi covid-19, menurut Badan satistik.
 
 
22,1 persen wanita yang berpendidikan tinggi dan menyandang gelar master lebih sediki untuk memutuskan kejenjang pernikahan, dibandingkan dengan perempuan yang berpendidikan dibawahnya.
 
Menurut data sensus dari lima tahun sebelumnya, penduduk yang bersetatus lajang mencapai 31,1 persen, mereka yang berusia 15 tahun. Kemudia turun menjadi 31,3 persen disebabkan penurunan angka persalinan.
 
Dari lima tahun sebelumnya, masyarakat yang menikah mencapai 55,9 persen menyumbang paling banyak dan terbesar.
 
 
Sedangkan orang yang bercerai mencapai 5,8 persen, hal inipun sedikit naik sekitar 0,7 persen.
 
Semantara itu terdapat 3,13 juta penduduk yang memelihara hewan dan terhitung 15 persen dari total.
 
Dimana 2,4 juta rumah tangga yang memelihara anjing dan 717.000 rumah tangga yang memelihara kucing***(Siti Ika Fatmawati)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Refly Rafesqy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X