LIPUTANBEKASI.COM - Nenek moyang bangsa Indonesia yang disebutkan sebagai seorang pelaut memang sudah melekat kuat dalam benak masyarakat.
Salah satu buktinya adalah Indonesia sendiri yang merupakan negara maritim, dengan 70 persen wilayahnya merupakan wilayah perairan.
Bahkan posisi geostrategis negara Indonesia ini juga terletak di antara 2 samudera.
Namun ternyata, ada bukti lain yang lebih konkret dan nyata bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah seorang pelaut.
Baca Juga 4 Cara Mengendalikan Emosi Marah, Agar Tidak Meledak Dan Berujung Penyesalan
Bukti ini diberikan langsung oleh pelaut bangsa Potugis pada masa jelajahnya ke Indonesia.
Bukti tersebut terkuak karena bangsa Portugis melihat bagaimana besar dan gagahnya kapal buatan nenek moyang Indonesia, yang disebut dengan kapal Djong.
Sebutan lain dari kapal Djong ini adalah Jong, Jung, atau Junco.
“Junco sangat tinggi, orang-orang kami (Portugis) tidak berani menaikinya. Bahkan tembakan kami tidak mampu merusaknya karena Junco dilapisi dengan 4 papan. Meriam kami pun hanya mampu menembus tidak lebih dari 2 papan pelapisnya.” Ujar Gaspar Correia dikutip dalam Sejarah.
Baca Juga Mengenal Pola Hubungan Yo-Yo, Hubungan Tarik Ulur Yang Tak Berujung
“Bahkan ketika itu, Gubernur kami memerintahkan kapal kami yakni Flor de la Mar yang merupakan kapal tertinggi untuk datang ke samping Junco. Namun ketika kami berusaha menaiki kapal Junco, ternyata bagian belakang kapal kami bahkan tidak bisa mencapai jembatannya.” Sambungnya.
Kapal ini merupakan kapal yang pernah menjadi tulang punggung kekuatan laut kerajaan Majapahit yang ditemukan bangsa luar di perairan Nusantara.
Dikutip dari buku sejarah yang berjudul Nan Zhuo Yiwu Zhi atau yang diartikan menjadi “Hal Aneh dari Negeri Selatan” karya Wan Chen yang mendeskripsikan bagaimana kapal nenek moyang Indonesia ini.
Kapal ini disebut dengan K’un-lun atau yang berarti Kepulauan di bawah angin atau Negeri Selatan.
Junco, dideskripsikan sebagai kapal yang mampu membawa 700 orang dan lebih dari 10.000 kargo dengan interpretasi berat sekitar 250 sampai 1000 ton.