LIPUTANBEKASI.COM - Sesar Cugenang terdeteksi setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan survei atau analisis sumber gempa.
Sesar Cugenang belakangan ini diketahui sebagai penyebab gempa dengan magnitudo 5,6 di Cianjur, Jawa Barat pada 21 November lalu.
Sesar Cugenang merupakan patahan aktif yang baru teridentifikasi setelah gempa bumi tersebut.
Penemuan Sesar Cugenang sangat berguna dalam membantu proses rekonstruksi dan rehabilitasi ribuan rumah yang terdampak gempa tektonik di Cianjur.
Baca Juga: Dua Belas Makanan Terburuk untuk Dimakan Jika Memiliki Tekanan Darah Tinggi
Dengan terdeteksinya Sesar Cugenang, maka jumlah patahan yang masih aktif di Indonesia mencapai 296.
Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, patahan aktif itu dinamakan Sesar Cugenang karena jalurnya berada di Kecamatan Cugenang.
Sebelumnya, gempa bumi di Cianjur diduga disebabkan aktivitas Sesar Cimandiri, karena pusatnya berada di sekitar patahan tersebut.
Sesar Cugenang membentang sepanjang sekitar sembilan kilometer dan melintasi sembilan desa, yang terdiri dari delapan desa di Kecamatan Cugenang dan satu desa di Kecamatan Cianjur.
Baca Juga: Lokasi Pemantauan yang Terpencil hingga KRB yang Harus Diwaspadai di Gunung Peut Sague.
Kedelapan desa di Kecamatan Cugenang yang menjadi lintasan sesar ini yakni Ciherang, Ciputri, Cibeureum, Nyalindung, Mangunkerta, Sarampad, Cibulakan, dan Benjot.
Adapun satu desa lainnya di Kecamatan Cianjur yang juga merupakan zona berbahaya yakni Nagrak
Dengan demikian, sembilan desa yang disebutkan di atas merupakan daerah rawan gempa.
Sementara itu, 3.993 unit rumah di sembilan desa tersebut mengalami kerusakan parah berdasarkan data Direktorat Jenderal (Dirjen) Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dengan menggunakan aplikasi Rumah Terdampak Bencana (Rutena).
Sepuluh fasilitas sosial dan umum, seperti sekolah dan tempat ibadah, tak luput dari dahsyatnya gempa bumi.