LIPUTAN BEKASI – Covid-19 Varian Omicron yang akhir-akhir ini menggegerkan dunia kesehatan pasca ditemukan di Afrika Selatan pada 24 November lalu, kini sudah mulai menunjukkan titik terang.
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengimbau agar menghindari spekulasi-spekulasi terkait varian baru tersebut sebelum ada penelitian dan pengkajian secara mendalam.
Pada 15 Desember lalu, hasil penelitian yang dilakukan di Hongkong menunjukkan bahwa Covid-19 varian Omicron memiliki kemampuan memperbanyak diri lebih cepat 70 kali di bronkus, namun kemampuannya tersebut 10 kali lebih lambat di paru-paru jika dibandingkan dengan varian Delta.
Karena kemampuannya memperbanyak diri 10 kali lebih lambat di paru-paru dibanding varian Delta, maka diduga potensi akibat yang ditimbulkan varian Omicron lebih rendah.
Dikutip dari Twitter dr. Adam Prabata, Tingkat rawat inap Afrika Selatan lebih rendah 91% saat ini dibandingkan periode yang sama saat gelombang varian Delta muncul.
Baca Juga: Covid-19 Varian Omicron Ada di Belanda Sebelum Afrika Selatan
Sebagaimana diketahui Afrika Selatan merupakan salah satu negara yang mayoritasnya varian Omicron saat ini.
“Varian Omicron kemungkinan menyebabkan keluhan yang lebih ringan dibanding varian Delta,” tulis Adam.
Selain hasil penelitian tersebut, terdapat penelitian lain tentang varian Omicron yang menyebutkan bahwa antibodi seseorang yang sudah pernah sembuh dari Covid-19 atau yang sudah divaksin 2 kali memiliki kemungkinan untuk menetralisir varian ini lebih tinggi.
Baca Juga: Kemenkes Temukan 5 Kasus Probable Omicron, 2 WNI dan 3 WNA Asal Tiongkok
“Ada 2 penelitian konsisten menunjukkan kalau orang yang sudah pernah kena Covid-19 dan sudah divaksinasi itu antibodi penetralisirnya masih relatif tinggi untuk varian Omicron,” lanjutnya.
Meski demikian, kita tetap dianjurkan untuk selalu waspada dan selalu mengikuti protokol kesehatan (Prokes) guna menghindari lonjakan kasus terinfeksi Covid-19.***