Varian Terbaru Delta ini Sudah Menyebabkan Angka Kematian Akibat Covid 19 Menyentuh Hampir 5 Juta Korban Jiwa

photo author
Langgeng Ikhtiar Pribadi, Liputan Bekasi
- Selasa, 5 Oktober 2021 | 10:00 WIB
Ilustrasi varian Delta (https://innovativegenomics.org/)
Ilustrasi varian Delta (https://innovativegenomics.org/)

LIPUTAN BEKASI - Kematian di seluruh dunia akibat Covid-19 ini sudah menembus di angka 4.777.503 kematian pada hari Jumat,  1 Oktober 2021 kemarin, dihimpun berdasarkan data dari World Health Organization.

Dari perhitungan Reuters sendiri, angka kematian sudah menembuh 5 juta korban jiwa.

Kesadaran orang yang belum divaksinisasi dan secara cepat menyebarkan varian Delta ini, menyebabkan angka kematian melesat tajam.

Varian Delta ini telah mengekspos sebuah perbedaan yang sangat luas ditingkat vaksinisasi antar negara negara yang kaya dan yang miskin, serta akibat dari keraguan keraguan vaksin di beberapa negara negara bagian barat.

Baca Juga: BMKG Memprediksi Jakarta Cerah Berawan, Hingga Bekasi Hujan Sejak Siang

Lebih dari setengah dari total semua kematian secara global yang dilaporkan dalam beberapa hari terakhir serta menyumbang angka terbanyak ada di negara  Amerika Serikat, Russia, Brasil, Meksiko, lalu ada India.

Sementara butuh lebih dari setahun untuk jumlah kematian akibat Covid-19 ini menyentuh angka 2.5 juta, lalu 2.5 juta yang berikutnya di dapat hanya dalam kurun waktu 8 bulan saja, menurut hasil analisis dari Reuters.

Lalu rata-rata ada 8000 kematian yang dilaporkan setiap harinya diseluruh dunia selama seminggu terakhir, atau sedikitnya sekitar 5 kematian per menit.

Baca Juga: Wisatawan Indonesia Bisa Memasuki Phuket Tanpa Melalui Sebuah Karantina, Syaratnya harus Sudah Divaksin

Kabar baiknya adalah tingkat kematian global telah mengalami perlambatan dalam beberapa minggu terakhir.

Ada sebuah peningkatan fokus dalam beberapa hari terakhir untuk mengirimkan program vaksin ke negara negara yang tidak mampu, banyak sekali orang yang belum menerima dosis pertama.

Bahkan, mirisnya ketika negara negara kaya telah memberikan suntikan booster ke pada masyarakatnya.

Baca Juga: Onadio Leonardo Sangat Terpukul, Terimakasih Malaikat Kecilku

Ada lebih dari separuh dunia belum menerima dosis vaksin pertama, dilansir menurut data World in Data.

Organisai Kesehatan Dunia pun minggu minggu ini mengungkapkan sebuah program distribusi COVAX untuk pertama kalinya mengirimkan suntikan ke negara negara dengan tingkat cakupun yang terendah.

Dipimpin sendiri oleh WHO, COVAX ini sudah sejak Januari yang lalu mengalokasikan sebagian besar dosis yang mereka punya secara proporsional di antara 140 negara penerima disesuaikan dengan ukuran populasi dari negara tersebut.

Baca Juga: Dampak Buruk Terhadap Anak Jika Orang Tua Pilih Kasih, Kenali Tanda-Tandanya

"Pasokan bulan Oktober ini kami merancang metodologi yang sangat berbeda, hanya mencakupi peserta dengan cakupan rendah," ungkap dari Mariangela Simao, ia merupakan Asisten Direktur Jenderal WHO untuk akses vaksin.

Amerika Serikat sendiri harus berjuang keras melawan kesalahan dari informasi vaksin yang telah menyebabkan sekitar sepertiga dari populasinya tersebut menghindari inokulasi.

Sudah melampaui sekitar 700.000 kematian pada hari Jumat yang lalu, itu adalah jumlah korban tertinggi dari negara manapun.

Baca Juga: Mulai tanggal 6 Oktober Nanti, Singapura Mengizinkan Pendatang Dari Indonesia Untuk Melakukan Transit

Untuk kasus rawat inap di AS jauh lebih rendah, akan tetapi pejabat kesehatan harus bersiap untuk kebangkitan kemungkinan terbaru karena cuaca yang lebih dingin serta memaksa melakukan aktifitas di dalam ruangan.

Sementara Russia sendiri mencatat adanya 887 kematian akibat pandemi ini pada hari Jumat yang lalu. 

Jumlah kematian per satu hari terbesar yang tercatat sejak pandemi covid-19 ini dimulai dan empat hari berturut turut mencatatkan rekor itu.

Baca Juga: Sebuah Helikopter dan Sebuah Pesawat Bertabrakan di Udara, 2 orang meninggal dunia

Hanya sebanyak 33 persen warga Russia sudah menerima dosis pertama.

Sebagai sebuah wilayah, Amerika Selatan memiliki angka kematian yang sangat tinggi di dunia, terhitung 21 persen dari semua kematian dilaporkan, lalu dibelakangnya ada Amerika Utara dan Eropa Timur negara itu masing masing menyumbang 14 persen dari semua segi kematian.

India sendiri salah satu negara yang hancur akibat dari serangan varian Delta ini, yang berubah dari rata rata 4000 kematian perhari, menjadi kurang dari 300 perhari saat kampanye vaksinisasi telah diluncurkan.

Baca Juga: Ini Daftar Ponsel yang Tidak Bisa Lagi Akses WhatsApp Mulai 1 November

Sekitar dari 47 persen populasi di India memenuhi semua persyaratan untuk menerima dosis pertama.

Varian Delta sekarang menjadi strain dominan di seluruh dunia dan telah mendapat laporan di 187 dari 195 negara.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Refly Rafesqy

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X