LIPUTANBEKASI.COM - Setiap remaja tentu saja mengalami masa pubertas.
Setiap remaja menunjukkan perubahan perilaku yang berbeda-beda saat memasuki masa pubertas.
Tak sedikit remaja yang suasana hatinya tidak stabil, sehingga tidak mampu melakukan manajemen emosi dengan baik.
Ia akan mudah marah dan kecewa ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan diharapkan.
Baca Juga: Siapakah sebenarnya Alexei Navalny yang mampu menyebabkan Vladimir Putin merasa takut?
Misal, ia akan memukul-mukul telepon genggam apabila aplikasi tidak berfungsi atau koneksi internet tidak stabil.
Di samping itu, ia akan memukul-mukul pintu jika orang tua tidak menuruti keinginannya.
Remaja yang tidak mampu melakukan manajemen emosi dengan baik, cenderung akan mengalami masalah serius dalam kehidupan sehari-harinya.
Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan suka memberontak.
Baca Juga: Thariq Halilintar dijodohkan dengan Putri Delina, begini jawaban Fuji
Selain itu, ia akan mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial, baik di sekolah, tempat kerja, maupun masyarakat.
Walau marah merupakan hal yang wajar bagi manusia untuk merespons hal yang tidak diinginkan atau diharapkan, tetapi orang tua harus mengenalkan dan mengajari batasan amarah.
Selain itu, orang tua harus mengajarkan manajemen emosi dan cara menyikapi sesuatu yang tidak diinginkan tersebut kepada buah hati demi kualitas hidupnya yang lebih baik.
Berikut adalah empat cara mengajarkan manajemen emosi kepada remaja:
1. Ajarkan perbedaan antara marah dan agresif