LIPUTANBEKASI.COM - Simak kisah seorang gadis yang jatuh hati pada kakak kelasnya yang sesama jenis, pada akhirnya bisa sembuh dari penyimpangannya itu.
Sebenarnya, kisah seorang gadis yang jatuh hati pada kakak kelasnya yang sesama jenis ini diambil dari kehidupan nyata seseorang yang disamarkan identitasnya.
Lantas bagaimana gadis itu bisa sembuh dari penyakitnya tersebut? Kamu wajib simak kisah seorang gadis yang jatuh hati pada kakak kelasnya yang sesama jenis berikut ini.
Untuk kisah seorang gadis yang jatuh hati pada kakak kelasnya yang sesama jenis itu diceritakan kembali berdasarkan sudut pandang dari si "gadis" tersebut.
Aku menggigit ujung kukuku. Perutku aneh dan geli, seperti ada kupu-kupu yang terbang, menari-nari kegirangan di dalam.
Degup jantung semakin kencang, rasanya seperti berada di atas roller coaster yang sedang menanjak menuju puncak.
'Ah, kenapa ia datang sepagi ini?' gumamku dalam hati. Namanya Reni, kakak kelas yang sejak pertama aku masuk sekolah sangat perhatian padaku.
Penampilannya tomboy bahkan mengarah ke macho. Awalnya aku tidak memiliki perasaan apa-apa kepadanya.
Tetapi entah mengapa beberapa hari ini aku selalu grogi jika berdekatan dengannya.
Ih, kamu manis banget hari ini!
Kamu lagi apa?
Mau kuantar pulang?
Itu hanyalah sedikit ungkapan perhatian yang ia berikan padaku. Senang? Tentu saja! Entah mengapa aku jadi merindukan sapaannya.
Bahkan timbul rasa tidak nyaman dalam hati saat ia juga memberi perhatian yang sama kepada teman yang lain.
Pagi ini, seperti biasa ia menghampiriku dengan senyumnya yang hangat.
"Sudah sarapan?" tanyanya padaku.
Ku gelengkan kepalaku pelan, aliran darah seolah dipompa lebih cepat oleh jantung.
Aku jadi bingung sendiri harus bersikap seperti apa. Ia menyodorkan snack dari balik jaketnya.
Aku menerimanya dengan tangan sedikit gemetar. Hanya ucapan 'terima kasih' yang kuucapkan dengan lirih sebagai balasan.
Lili adalah nama samaranku. Aku gadis berumur 14 tahun. Seumur hidupku, tidak terlintas sedikit saja jatuh hati kepada sesama jenis, namun itulah yang terjadi.
Ya, aku dan Reni akhirnya pacaran secara diam-diam. Awalnya, orang lain tidak akan curiga dengan pertemanan dan kedekatan kami.
Mungkin mereka mengira itu keakraban yang wajar selayaknya sesama teman perempuan. Lambat laun teman-teman sekolah mulai curiga.
Apalagi Reni mulutnya 'bocor', tidak bisa menahan rahasia, sehingga terkuaklah hubungan terlarang kami. Berita ini pun terdengar oleh pihak sekolah.
Akhirnya, aku dan Reni harus menghadap guru BP. Disana Reni bercerita dengan terus terang mengenai hubungan kami, sementara aku lebih banyak diam.
Pihak sekolah pun memberi keputusan yaitu kami harus berpisah disertai berbagai ancaman, salah satunya akan dikeluarkan dari sekolah jika masih pacaran.
Semua nomor ponsel dan akun media sosial harus ditutup, diganti dengan yang baru sehingga kami putus komunikasi sama sekali.
Bahkah sampai Reni lulus, aku tidak boleh bertemu sama sekali oleh pihak sekolah dan keluarga bahkan meski sekadar mengirim SMS.
Mengapa cinta kami dilarang?
Apa salah kalau cinta kepada sesama jenis?
Kenapa aku tidak boleh bahagia?
Itu adalah pertanyaan yang sering muncul di benakku, sebelum aku mengenal yayasan Peduli Sahabat.Sebuah yayasan yang bergerak di bidang sosial dengan memberikan informasi, edukasi, dan pendampingan.
Mereka akan memberikan bantuan kepada orang yang memiliki ketertarikan kepada sesama jenis atau Same Sex Attraction (SSA) yang ingin tetap hidup di jalan Allah SWT dan LGBT yang ingin bertobat.
Aku mengenal yayasan Peduli Sahabat (PS) dari sebuah berita dan disitulah aku memahami lebih banyak tentang dunia SSA.
Kata konselor PS, aku belum sampai pada tahap jatuh cinta, baru jatuh hati.
Mungkin itu disebabkan karena aku tidak mendapatkan perhatian yang aku butuhkan dari keluarga.
Perhatian yang aku butuhkan malah aku dapatkan dari Reni, yang ternyata tertarik kepada sesama jenis sejak kecil.
Awalnya aku menerima perhatian dari Reni karena kebutuhan hati. Apalagi waktu itu aku belum memahami dunia SSA.
Namun, saat Reni mulai mengajakku untuk melakukan hal terlarang, aku menolaknya. Alhamdulillah, aku bersyukur masih ada sisa keimanan di dalam dada ini.
Melalui yayasan Peduli Sahabat, aku dibimbing untuk melupakan Reni sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, sudah berhasil.
Kini aku kembali fokus belajar dan sekolah serta berusaha memahami bahwa perhatian padaku mungkin caranya saja yang masih kurang tepat.***
Artikel Terkait
Hikmah Utama Membaca Al-Quran, Suara Lantunannya Mampu Menyehatkan Sel Tubuh!
Sejarah Baru Politikus PDIP jadi Presidium KAHMI Termuda
Apex Legends™ Mobile Adakan Event Baru Underworld Mulai Hari Ini
Jarang Diketahui! Pakai 3 Fitur HP Ini biar Aktivitas Lebih Lancar
Setelah Piala Presiden Esports 2022, Lokapala Bersiap untuk Rilis di Kawasan Asia Tenggara
Rayakan Kick-off World Cup dengan Skin Kolaborasi Terbaru Neymar x Mobile Legends: Bang Bang
PUMA x Coca-Cola Sebuah Kolaborasi yang Menyegarkan
Musember, duo Eka Gustiwana dan Yessiel Trivena ini kembali merilis lagu terbaru mereka yang berjudul "Alergi"
Nabila Putri Prayudi - Kekuatan dan Kelemahan INFP, Salah Satu Tipe Kepribadian Berdasarkan Tes MBTI
5 Fakta Menarik dari Sejarah Balap Mobil di Dunia!