LiputanBekasi.com - Obsessive Compulsive Disorder atau disingkat OCD adalah bentuk masalah kesehatan mental yang membuat pengidapnya mempunyai pemikiran dan dorongan yang tidak bisa dikontrol yang sifatnya berulang (obsesi) serta munculnya perilaku (paksaan) kompulsif.
OCD (Obsessive-Compulsive Disorder) kondisi yang bisa dialami siapa saja. Lantas, bagaimana dengan gejala OCD?
"OCD itu suatu gangguan yang cukup umum dan bersifat kronis, membuat seseorang memiliki pikiran-pikiran (obsesi) yang sulit dikendalikan dan berulang.Bisa juga memiliki perilaku (kompulsi) yang membuat seseorang merasa dipaksa untuk mengulang-ulang perbuatannya," jelas dr. Leonardi A. Goenawan, Sp. KJ
Apabila Anda sering kali merasakan kondisi mental dengan pikiran-pikiran yang mengganggu karena tidak seperti obsesi Anda, hal ini bisa menjadi salah satu gejala penyakit OCD. Sedangkan jenis penyakit OCD dapat menyerang pada anak-anak maupun orang dewasa.
Penyakit OCD umum menyerang orang dewasa, remaja, dan anak-anak di seluruh dunia. Kebanyakan orang didiagnosis pada usia 19 tahun, biasanya dalam usia dini pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
Penyebab Obsessive-Compulsive Disorder belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa faktor di atas berpengaruh terhadap terjadinya gangguan ini.
Penyebab risiko OCD lainnya, yaitu Selain pengalaman hidup, faktor keturunan juga merupakan pemicu terbesar timbulnya gangguan psikologis OCD. Memiliki orang tua atau saudara yang mengidap OCD bisa membuat seseorang berisiko tinggi mengalami gangguan yang sama.
OCD diduga terjadi karena ada gen tertentu yang diturunkan oleh orang tua yang memengaruhi perkembangan otak seseorang. Namun, jenis gen apa yang berpengaruh menimbulkan OCD masih diteliti hingga kini.
Faktor risiko lain yang mungkin juga berpengaruh terhadap timbulnya Obsessive-Compulsive Disorder adalah kepribadian yang dimiliki seseorang. Orang yang rapi, teliti, perfeksionis, serta memiliki disiplin tinggi berisiko lebih besar mengalami OCD.
Berikut contoh-contoh obsesi yang bisa dialami pengidap OCD:
1. Takut kotor, misalnya anti menyentuh barang yang sudah disentuh orang lain atau enggan bersalaman,
Cemas atau takut tertular penyakit sehingga menghindari bersalaman atau menyentuh benda-benda
2. Sangat memerhatikan keteraturan dan tata letak yang simetris, misalnya menyusun pakaian berdasarkan gradasi warnanya.
3.Perasaan ketakutan yang berlebihan, sehingga pengidap bisa berulang kali memastikan bahwa pintu rumah sudah dikunci.
4.Munculnya pikiran yang tidak diinginkan, biasanya berkaitan dengan sikap agresif, seksualitas, keyakinan, dan agama. Misalnya, pengidap bisa tiba-tiba mengeluarkan sumpah serapah tanpa alasan yang jelas.
Apakah OCD bisa disembuhkan?
Jika tidak ditangani, OCD biasanya berlanjut, berkembang, dan komorbid dengan gangguan lainnya. Namun, gangguan ini bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. Salah satu penanganan yang digunakan oleh praktisi kesehatan mental adalah Cognitive Behavior Therapy (CBT) dalam menangani OCD. Namun, perlu kerjasama yang baik antara praktisi kesehatan mental dan orang dengan OCD untuk menangani gangguan ini. Orang dengan OCD harus bersikap jujur dan terbuka dalam menerima penanganan dari tenaga kesehatan. Oleh karena itu, sebaiknya penanganan OCD dilakukan oleh ahlinya agar dilakukan dengan baik dan efektif.
Peran Keluarga dalam Penanganan OCD
Keluarga banyak berperan dalam proses penanganan remaja dengan OCD. Namun, kebanyakan orang tua dan kerabat seringkali tidak suportif, atau tidak mengerti cara menghadapi gangguan ini. Mereka mencoba membantu, seperti mencoba untuk menyuruh remaja dengan OCD untuk berhenti melakukan ritual/perilaku kompulsif, atau malah membantu menjalankannya. Walau begitu, bantuan ini sering kali justru membuat semua orang stres dan memperburuk kondisi.
Dukungan dari keluarga akan memberi dampak besar pada proses kesembuhan penderita. Terapi keluarga juga terbukti bisa membantu penyembuhan karena gangguan OCD mempengaruhi keluarga juga. Dokter dan praktisi kesehatan mental akan memberitahukan cara-cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mendukung anaknya.
Menghadapi Remaja dengan OCD
Anak dan remaja sering kali tidak menyadari bahwa perilaku kompulsif mereka tidak wajar. Remaja dengan OCD dapat menolak untuk mendapatkan penanganan karena takut dengan stigma dan perundungan (bullying) dari temannya. Orang tua dapat membantu dengan berbicara pada anak remajanya mengenai perilaku kompulsif tersebut dan membujuk untuk menangani masalah yang dialaminya ke psikolog atau psikiater. Orang tua juga sebaiknya tidak ikut menjalankan perilaku kompulsif anaknya. Remaja dengan OCD memerlukan dukungan penuh dan kesabaran dari keluarga dan kerabatnya, karena proses penanganan OCD tidak mudah dan membutuhkan waktu.
Jika kalian merasa diri sendiri atau keluarga mengalami gangguan ini, sebaiknya segera berkonsultasi pada psikolog atau psikiater, ya! ***
Artikel Terkait
Penampilan Heroik Livakovic Loloskan Kroasia
Jadwal Tayang Imperfect The Series 2, Kamu Tim VIP atau Free?
Supporter Bandung Menarik Diri dari Bergulirnya Kembali Liga 1: hastag NoJusticeNoFootball, Ada Apa?
Supporter Bandung Menarik Diri dari Bergulirnya Kembali Liga 1: hastag NoJusticeNoFootball, Ada Apa?
Masakan Teri Petai yang Lezat, Bisa Jadi Alternatif Masak Enak Lho Ya?
Waspada, 9 Resiko Menggunakan Sepatu Hak Tinggi dan Cara Tepat Mengenakannya
Resep Tempe Goreng Sambal Cetar Kecap, Praktis dan Sederhana
Gempa lagi ! Kini Guncang Sukabumi Getaran Terasa Hingga Jakarta
Wajib Dihindari, Ini 6 Dampak Buruk Perfeksionisme pada Manusia
Kolaborasi Apik Urban Media Network dan Promedia Teknologi Lahirkan Contentpreneur