Bermakna Islami yang Indah! 6 Tips Terbaik Memberi Nama Bayi Ala' Rasulullah saw

photo author
Maleeha Farida, Liputan Bekasi
- Jumat, 4 November 2022 | 10:30 WIB
Bayi yang sedang tertidur lelap (http://pexels.com/)
Bayi yang sedang tertidur lelap (http://pexels.com/)

LIPUTANBEKASI.COM  - Kelahiran buah hati merupakan momen yang paling ditunggu oleh pasangan yang baru menikah.Tentu bagi seorang muslim sangat dianjurkan memberi nama anak dengan bermakna Islami yang indah.

Nama-nama bermakna Islami yang indah tersebut bisa kita dapatkan dari nama-nama surah di Al-Qur'an, asmaul husna, ataupun nama-nama nabi dan rasul, juga nama istri-istrinya serta para sahabat nabi.

Ketika mencarikan nama anak bermakna Islami yang indah tersebut, adapun 6 tips terbaik memberi nama bayi ala' Rasulullah saw. yang perlu kamu ketahui! Apa sajakah itu? Berikut penjelasannya.

1. Setelah Lahir dan Sebelum Diberi Nama Hendaklah Dibacakan Do'a

Sudah tentu dianjurkan bagi seorang muslim untuk mengikuti apa yang diajarkan Rasulullah.

Sang buah hati yang baru lahir, hendaklah dilantunkan adzan dan iqamah di telinga bayi.

Ali Rafi radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Aku melihat Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan adzan di telinga al-Hasan bin Ali ketika dilahirkan oleh Fathimah.” (HR Abu Dawud 5105 dan at-Tirmidzi)

2. Mempersiapkan Pilihan Nama Islami untuk Bayi

Memutuskan nama bayi memang tidak sulit namun yang kadang terjadi ialah adanya ketidaksepakatan sehingga sampai bayi lahir. 
 
Orangtua sang anak belum menetapkan satu nama yang disetujui bersama, Karena itu, terkadang si anak bernama ganda, masing-masing dari pemberian suami dan istri. 
 
Kalau menghadapi hal yang demikian ayahlah yang berhak menetapkan nama sang buah hati.

3. Nama yang Bermakna Islami yang Indah.

Keluarga muslim hendaknya mencarikan nama beridentitas muslim. Tidak ada halangan bila nama yang beridentitas Muslim itu ditambah dengan identitas suatu daerah atau suku.

Bahkan dalam sebuah hadits ditekankan, “Muliakanlah anak-anakmu dan perbaguslah nama-nama mereka.” (HR Ibnu Majah)

4. Pemberian Nama yang Baik Merupakan Hak Anak

Seorang sahabat datang kepada Rasulullah saw. dengan menggandeng anaknya. Ia bertanya,“Ya Rasulullah, apakah hak anakku ini atasku?"

Rasulullah saw. menjawab, ‘Membaguskan namanya, memperbaiki adabnya (sopan santun), dan menempatkannya pada kedudukan (posisi) yang baik (fisik dan spiritual).” (ath-Thabrani).
 

5. Kaitan Nama dengan Sifat Orangnya

Al Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah berpendapat bahwa antara nama dengan sifat orangnya ada kaitan dalam makna dan hikmah.
 
Setidaknya, nama dapat menimbulkan sugesti (pengaruh yang dapat menggerakkan hati) dan sifat optimisme (memberi harapan yang baik).

Namun masih tidak masih tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Ada kalanya, orang yang bernama Muhammad Saleh ternyata seorang penjahat ulung.

Seorang perempuan yang bernama Nur (cahaya) atau Jamilah (cantik) ternyata sebaliknya. 
 
Rasulullah saw. pernah menyuruh mengganti nama orang seperti: Syararah (percikan api), Harb (perang), dan Waadi al-Maut (lembah kematian).

6. Namakan Anak dengan Nama Rasulullah saw. beserta Kerabatnya

Dalam suatu hadist ditekankan, “Berilah (anak-anakmu) nama nabi-nabi.” (HR Abu Dawud). 
 
Adapun beberapa nama Islami yang umum digunakan oleh kebanyakan orang karena bermakna Islami yang indah, yaitu diantaranya:

a. Muhammad bermakna terpuji oleh mereka yang di langit dan di muka bumi.

b. Abdullah (Ayah nabi Muhammad saw.) yang berarti penyembah Allah SWT.

c. Aminah yang bermakna jujur dan dapat dipercaya.

d. Halimah yang bermakna sabar dan tenang bijaksana.

e. As-Sa’diyah yang berarti nama suku Bani Sa’ad yang lengkap dan sempurna

Anjuran rasulullah saw. tentang pemberian nama-nama yang baik untuk Anak sangat ditekankan dalam suatu hadist.
 
“Sesungguhnya kamu kelak pada hari Kiamat akan dipanggil dengan nama-namamu dan nama-nama ayah-ayahmu, maka perindahlah namamu.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban).

Dalam suatu hadist lain juga disebutkan, “Nama-nama yang paling disukai oleh Allah Ta'ala ialah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Umar r.a.).***
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Hani Subakti

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X