Mesum! Ini Arti Jempol Kejepit di Kota Tua

photo author
Tiara Amelia, Liputan Bekasi
- Jumat, 9 Desember 2022 | 08:00 WIB
 Si Jagur di Museum Fatahillah   Sumber berita: YouTube
Si Jagur di Museum Fatahillah Sumber berita: YouTube
LiputanBekasi.com - Meriam Si Jagur terletak di Kota Tua, Jakarta dihiasi jempol yang terjepit antara telunjuk dan jari tengah. Banyak traveler yang menyangka itu bermakna mesum? Simak yuk!
 
Meriam Si Jagur berdiri gagah di tengah-tengah taman belakang Museum Fatahillah atau yang di kenal dengan nama Museum Sejarah Jakarta.
 
Meriam itu memang cukup unik lantaran menarik perhatian pengunjung, di ujung bagian belakang meriam terdapat tangan wanita memakai gelang lengkap dengan bordir.
 
Sudah begitu,posisi ibu jari yang diapit antara telunjuk dan jari tengah di konotasikan dengan tindakan mesum.
 
 
Tapi,rupanya jari kejepit itu tidak bermakna negatif,kok. 
 
Selma Isnaini, pemandu dari Wisata Kreatif Jakarta,dan tur virtual "Landmark Ikonik Jakarta" menjelaskan 
 
"Simbol jempol kejepit itu sering di anggap tidak sopan,padahal artinya adalah 'fico' atau keberuntungan,"kata Selma
 
Meriam di Jagur merupakan gabungan dari 16 Meriam kecil yang berhasil direbut oleh Belanda saat menang pertempuran di Malaka.Meriam tersebut di lebur menjadi satu meriam Si Jagur yang berukuran besar.
 
Salma bilang ada takhayul yang menyertai ketika Meriam Si Jagur ini di temukan. Orang-orang percaya bahwa meriam ini bisa membantu perempuan yang ingin segera mengandung.
 
 
"Ada takhayul, kalau perempuan ingin punya anak duduk di atas meriam akan segera hamil," ujar Selma
 
Orang-orang pun berbondong-bondong duduk di atasnya, sehingga kini Meriam Si Jagur di beri pagar serta menjadi lebih tinggi agar tidak ada lagi yang menaikinya.
 
Dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Meriam si Jagur dibuat di Makau, China oleh orang Portugis bernama Manoel Tavares Bocarro.
 
Meriam ini diletakkan di benteng St jago de Barra di Makau, sehingga muncullah julukan Si Jagur.
 
Meriam Si Jagur dipindahkan dari Makau ke Malaka saat Portugis berkuasa pada awal abad ke-16. Meriam tersebut diboyong ke Batavia oleh Belanda setelah menguasai Malaka pada 1641***
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Andini P.

Sumber: YouTube

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X