• Senin, 3 Oktober 2022

Monolog "Apakah Kita Sudah Merdeka" Karya Putu Wijaya

- Selasa, 16 Agustus 2022 | 15:28 WIB
Penampilan Seni Monolog Berjudul
Penampilan Seni Monolog Berjudul
Liputanbekasi.com - Pada peringatan ulang tahun kemerdekaan, aku leyek-leyek nonton TV. Ketika lagu sorak sorei di kumandangakan, si Kampret cucu ku, pelan-pelan mendekat lalu berbisik, Kek apakah kita sudah merdeka? aku terkejud, apa? apakah kita sudah merdeka?. 
 
Aku mulai marah, siapa yang menyuruh mu menanyakan itu? Aku baca di koran, si Kampret mengeluarkan sobekan kertas koran dari sakunya, kemudian menunjukan sebuah kepala berita. Darah ku mendidih, media sekarang semuanya edan, dagangannya tuh sensasi semua, bukan fakta!
 
Aku gayut tangan Kampret lalu ku dudukan di samping ku. Duduk! Jangan ngomong dulu, aku mau bicara, apa-apa saja kerjaan guru mu disekolah? Apakah guru mu sudah berhenti mengajar sejarah Indonesia?
 
 
Apakah guru mu tidak pernah memberitahukan kepada mu, bahwa pada tanggal 17 Agustus 1945, jam 10 pagi di Jl. Pegangsaan Timur No 56, Bung Karno dan Bung Hatta telah memproklamirkan kemerdekaan kita.
 
Proklamasi, kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekannya. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll. Diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat singkatnya. Jakarta, 17 Agustus 1945, atas nama Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta.
 
Nah, sejak itu kita merdeka. Jadi kita udah merdeka ya Kek? Woohh jelas. Kalau kita sudah merdeka Kek, kenapa kita masih miskin?
 
 
Hampir saja tangan ku ini menampar mulut si Kampret, untung aku ingat tuyul ini masih cucu ku sendiri. Sambil geram, Kampret dengarkan baik-baik! 
 
Kalau kita ini merdeka, itu artinya kita telah bebas dari penindasan penjajah, kita bebas menentukan nasib kita sendiri, kita bebas berbuat, kita bebas berpikir, kita bebas menentukan sikap kita sendiri. Tapi kalau kamu itu lapar, miskin, sakit, terpuruk, gagal, kecewa, kalah, hina, wohh itu bukan urusan kemerdekaan.
 
Gini! Kalau kamu itu mau kaya, harus kerja keras, mencari sendiri kekayaan mu, membalik sendiri nasib kamu, tidak ada orang yang mau nolong. Kalau kamu mau berhasil, mau jaya, mau hebat, wohh harus kerja keras, harus berani bersaing, harus berani berkorban, harus berjuang melawan tantangan. Gak ada orang itu mau menyuapi, apalagi mengasihani.
 
 
Kalau kamu itu ulet, berprestasi, pinter, wohhh kamu akan menjadi orang nomor satu, tapi kalau kamu males, bodoh, teler, melempem, doyannya hanya mengeluh, mengemis, protes, wohhh yakin kamu akan menjadi orang kere seumur hidup mu.
 
Karna jika kita ini merdeka, kita harus bisa mempergunakan sebuah kebebasan yang di berikan kemerdekaan, jangan mentang-mentang kamu pikir terus seenakmya sendiri, kebablas, seenak udel mu sendiri.
 
Padahal kalau kamu itu merdeka, kemerdekaan kamu di batasi. Di batasi oleh kemerdekaan-kemerdekaann lain milik saudara-saudara mu, yang ada di lingkungan sekitar kamu, yang sama-sama merdekanya dengan kamu.
 
 
Walhasil, kalau kamu merdeka, sebenarnya kamu tidak merdeka. Ngerti? Si Kampret tidak menjawab, ngerti? Tidak. Nah dengan kamu bilang “tidak” artinya kamu orang yang merdeka, hanya orang merdeka yang berani kapan saja bilang “tidak.”
 
Di layar televise sang Saka telah di kerek, di iringi lagu Indonesia Raya, aku jadi merinding, aku terlempar pada masa revolusi, ketika aku keluar masuk hutan, bersembunyi dibalik ketiak-ketiak bukit, mencekam konvoi tentara kolonial, menghancurkan jembatan, malam-malam mengendap-endap ke kota, menyusuri tangki militer untuk mencuri senjata. 
 
Tapi kami di sergap, karna ada pengkhianatan, kami lari dan kaki ku tertembak, kami semua jatuh ke dalam sumur tua.
 
 
Jadi betul Kek, kita sudah merdeka? Sang Saka telah naik, berada di puncak tiang, anggun perkasa, aku telah turut aku telah ikut membayar ongkos perjalanannya, hingga kaki ku pincang sampai sekarang, tapi sama sekali tidak ada rasa menyesal. Jadi betul Kek, kita sudah merdeka? 
 
Pada masa kemerdekaan, aku meletakan senjata ku, kembali ke sawah, hidup ku tenang. Sampai pada suatu saat ada yang memfitnah ku, mengatakan aku adalah pengkhianat ketika dulu kami di sergap.
 
Aku di perkarakan dan di penjarakan 5 tahun, didalam penjara akhirnya aku sadar, orang yang memfitnah ku, itulah pengkhianat sebenarnya. Setelah bebas, aku cari dia di kota, tapi ternyata dia sudah jadi pejabat yang sangat di cintai masyarakat.
 
 
Dia tau aku datang, dia suruh orang untuk membrangus ku. Aku bukan pahlawan lagi, aku hanya orang biasa yang mencintai keluarga ku, aku lari aku melarikan diri, aku menghilang. 
 
Kenapa ketika mengingat semua ini, aku sedih sekali. Inikah artinya kemerdekaan? Aku menjerit aku menangis di dalam batin.
 
Kalau betul Kek, kita sudah merdeka, kenapa Kakek menangis? Terkejut, cepat-cepat aku segak air mata ku, ku gayut tangan Kampret, ku tutup mulutnya dan aku bilang. ,Kampret! Kakek menangis karna kita sudah merdeka, hanya orang merdeka yang bisa, boleh, dan berani menangis di manapun kapanpun ia ingin menangis.

Editor: Defrin Zakiyah Insani

Sumber: Channel Youtube Marsetio Hariadi https://youtu.be/2JAHEgnkFy

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Apakah Benar Program Kompor Listrik Dibatalkan PLN?

Jumat, 30 September 2022 | 22:16 WIB
X