Pakar Ingatkan, Dunia Akan Kiamat Energi

- Sabtu, 26 November 2022 | 18:40 WIB
ilustrasi krisis energi (Alan Frijns/pixabay)
ilustrasi krisis energi (Alan Frijns/pixabay)

LIPUTANBEKASI.COM – Pakar Ingatkan, Dunia Akan Kiamat Energi. Dunia mengalami kekurangan energi. Invasi Rusia ke Ukraina menambah bebannya. Seorang pakar memperingatkan bahwa dampaknya bisa lebih parah daripada kegemparan minyak pada 1970-an.

"Salah satu alasan penyebab bisa jadi lebih parah adalah karena krisis energi 1970-an hanya terkait minyak. Sekarang ini termasuk gas alam dan batu bara serta bahkan terkait dengan bahan bakar nuklir," papar Wakil Pimpinan S&P Global Daniel Yergin, seorang penulis peraih Hadiah Pulitzer dan pakar dalam bidang ini.

"Kedua, salah satu tokoh dalam situasi ini adalah negara bersenjata nuklir, yang presidennya sudah beberapa kali mengancam akan menggunakan senjata nuklir, baik secara langsung maupun tidak. Tentu saja, orang itu adalah Vladimir Putin."

Kerusuhan di Timur Tengah dan Revolusi Iran mengganggu pengiriman minyak ke Barat serta memicu inflasi tertinggi selama 1970-an. Ada sejumlah kesamaan dengan apa yang kita lihat saat ini.

Baca Juga: Banjir di Jeddah, Arab Saudi : Padang Pasir Berubah Menjadi Genangan

"Risiko besarnya adalah terhentinya pasokan, disrupsi, yang akan menciptakan kekurangan dan terus mendorong naiknya harga. Pada akhirnya mendorong dunia masuk ke dalam resesi global atau lebih parah lagi," jelas Yergin.

Ia juga menyebutkan bahwa masalah-masalah lain, seperti krisis pangan global, secara hakikatnya terkait dengan membumbungnya biaya energi.

"Diperkirakan bahwa 70% biaya pangan sebenarnya adalah energi. Bukan hanya dalam bentuk pupuk, tetapi dalam bentuk penanaman serta dalam bentuk pemrosesan, dan transportasi. Jadi krisis ini berdampak kepada ekonomi secara keseluruhan," paparnya.

Uni Eropa, Jepang meresahkan 'politik energi'

Rusia baru-baru ini menutup Nord Stream 1, saluran pipa gas terbesar ke Jerman, untuk perawatan rutin. Meskipun Moskwa mengatakan aliran gasnya akan disalurkan kembali, Uni Eropa mengkhawatirkan dilakukannya penutupan permanen sebagai hukuman atas sanksi-sanksi Barat.

Baca Juga: Lirik Lagu Hati-Hati di Jalan-Tulus, Hidup Harus Terus Dijalani Meski Kisah Tak Seperti Harapan

Yergin mengisyaratkan bahwa blok tersebut membuat diri sendiri rentan dalam transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan.

"Komitmen Eropa terhadap energi terbarukan didasarkan atas ketergantungan terhadap energi Rusia, terutama Jerman. Kini, Jerman berupaya keras membangun terminal penerima gas alam cair (LNG), membakar batu bara, dan menyesalkan penutupan PLTN yang menyediakan 25% pasokan listriknya," tutur Yergin.

Jepang juga memiliki risiko terkena konsekuensi serupa karena mendukung Ukraina. Para pejabat khawatir Moskwa dapat menghentikan aliran gas dari Sakhalin 2, sebuah proyek pengembangan LNG dan minyak di Timur Jauh Rusia yang memasok sekitar 10% gas impor Jepang.

"Rusia selama ini merupakan produsen minyak ketiga terbesar di dunia," kata Yergin. "Dan kini, dunia harus memandang minyak dan gas negara itu sebagai 'politik energi' serta sebagai sumber energi yang tidak dapat diandalkan."

Halaman:

Editor: Dillast Prilmulyo

Sumber: www3.nhk.or.jp

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X