LIPUTANBEKASI.COM - Istilah generasi home service masih terdengar asing di telinga sebagian orang.
Generasi home service pada umumnya merujuk kepada anak-anak atau remaja yang masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap orang-orang di sekelilingnya.
Generasi home service memungkinkan anak-anak atau remaja menuntut segala kebutuhannya disediakan orang lain.
Misal, seorang anak yang meminta ibunya untuk mengambil atau mempersiapkan buku-buku pelajaran, untuk dibawa ke sekolah.
Dalam hal ini, anak tersebut enggan mempersiapkan buku-buku tersebut yang akan dibawa pada hari itu.
Ada contoh lain yakni seorang remaja meminta ibunya untuk mengambil makanan secara lengkap, sudah termasuk lauk-pauk beserta sayur-sayuran.
Bahkan, ada di antara sekian remaja yang masih meminta untuk disuapi.
Alih-alih untuk melakukan dan memenuhi kebutuhan dasar seorang diri, remaja tersebut justru bermain gadget dan memainkan game online.
Akibatnya, dia seakan-akan tak bisa lepas dari ponsel cerdas dan malah mengandalkan orang-orang di sekeliling untuk melayani permintaan yang seharusnya bisa dilakukannya seorang diri.
Jika kebiasaan ini dibiarkan, anak-anak atau remaja itu tumbuh menjadi pribadi yang pemalas dan tidak mampu merawat diri sendiri, bahkan akan berlanjut hingga menjalani kehidupan rumah tangga kelak.
Ada beberapa faktor penyumbang banyaknya generasi home service, antara lain kemampuan finansial orang tuanya yang memungkinkan mereka untuk segera memenuhi kebutuhan si buah hati.
Jika anak menginginkan sesuatu, orang tua yang mampu secara finansial langsung memenuhi keinginannya.
Bahkan, orang tua tak ragu mengajak si buah hati ke pusat perbelanjaan termewah untuk membeli barang yang diinginkannya, misal pakaian, mainan, atau boneka (khusus putri).
Orang tua berani mengeluarkan banyak uang demi memuaskan keinginan buah hatinya.
Namun, cara orang tua dalam mengekspresikan kasih sayang kepada anaknya tetaplah salah.
Pasalnya, sikap orang tua tersebut sama dengan menceburkan anaknya sendiri ke dalam lembah kemanjaan dan keegoisan.
Akibatnya, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang egois, manja, dan tak mengerti aturan.
Anak akan beranggapan segala sesuatu harus didapatkan secara instan.
Bahkan, tak sedikit anak yang terlibat tindak kejahatan, seperti pencurian, tumbuh dari orang tua yang gemar memanjakan buah hatinya.
Kebiasaan anak dalam menuntut orang lain agar dipenuhi serta dilayani segala keinginannya dapat disebabkan sebagai berikut:
1. Mudah kasihan saat melihat perjuangan anak
Sebagian orang tua zaman sekarang mudah merasa kasihan melihat perjuangan anaknya dalam mencapai atau memperoleh sesuatu.
Selain itu, mereka seakan tak terima buah hatinya berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri.
Mereka kemudian ikut campur dalam usaha si anak dan membantunya dalam melakukan suatu hal secara terus-menerus dengan dalih agar cepat selesai.
Jika hal itu terus dibiasakan orang tua, anak akan mengalami ketergantungan pada orang-orang di sekeliling.
Akibatnya, anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri dan mengandalkan bantuan orang lain di setiap pekerjaan dan perjuangannya.
2. Tidak mampu menolak permintaan anak
Sebagian orang tua merasa takut atau khawatir jika keinginan buah hati tidak dipenuhi.
Dengan dalih memberikan kasih sayang, mereka tak ragu membelikan makanan mewah atau mainan bagus dengan harga yang tinggi demi memenuhi keinginan buah hatinya.
Jika dibiarkan terus-menerus, anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap penolakan.
Anak akan beranggapan segala keinginannya harus dituruti.
Bahkan, anak akan menghalalkan segala cara, termasuk tindak kejahatan, untuk memenuhi keinginannya, terlebih saat tumbuh remaja atau dewasa.
3. Tidak mengajarkan empati pada anak sejak dini
Orang tua yang tidak mengajarkan empati kepada anaknya sejak dini berpeluang besar akan menjerumuskan anaknya ke lembah keegoisan.
Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak peka terhadap kesulitan atau penderitaan hidup orang lain.
Selain itu, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang arogan dan bersikap sewenang-wenang kepada orang lain saat tumbuh dewasa.
Ketika orang tua selalu menuruti atau menuruti keinginan buah hati, anak itu akan beranggapan bahwa perhatian orang lain harus selalu tertuju padanya.
Dalam hal ini, orang lain dituntut untuk memenuhi keinginan anak bagaimanapun caranya, tidak mengenal istilah penolakan.
4. Selalu melayani permintaan anak
Kebiasaan orang tua yang selalu menuruti atau melayani permintaan anak akan menyumbang dampak buruk bagi tumbuh kembangnya.
Anak menjadi ketagihan untuk meminta bantuan orang lain atau barang yang diinginkannya.
Anak menjadi tumbuh menjadi pribadi yang tidak peduli dengan keadaan sekitar karena mementingkan diri sendiri.
Selain itu, anak juga dikhawatirkan tidak memahami arti perjuangan dan pengorbanan dalam mencapai sesuatu.
Yang tertanam di benaknya hanyalah cara-cara instan dalam meraih segala sesuatu yang diinginkan, bahkan tidak peduli cara tersebut dilarang.
Sebagai orang tua, Ayah dan Bunda harus paham cara mengasuh anak yang baik agar si buah hati tidak tumbuh menjadi generasi home service yang pemalas dan pemanja.
Ayah dan Bunda juga harus ajarkan empati dan perjuangan sejak dini.
Misal, ajarkan buah hati untuk menolong orang lain, rajin belajar, melakukan pekerjaan rumah, dan sebagainya.
Jika anak tersebut dapat melakukan hal tersebut dengan baik, Ayah dan Bunda baru bisa memenuhi segala keinginannya.
Dengan kata lain, terpenuhi segala sesuatu yang diinginkan si buah hati merupakan reward atau hadiah dari kerja keras yang Ayah dan Bunda tanamkan sejak dini. ***